Pemerintah pusat baru saja memasang target tinggi untuk ekonomi Sumatera Barat di tahun 2026, yakni tumbuh sebesar 5,7 persen. Angka ini terdengar gagah dan penuh semangat. Namun, Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumbar justru memberikan peringatan dini yang cukup realistis. Menurut mereka, target itu terlalu berat dan memproyeksikan ekonomi kita tahun ini lebih masuk akal di angka 4 persen saja.
Mengapa BI terkesan ‘pesimistis’? Jawabannya jelas, karena kita baru saja babak belur. Tahun 2025 adalah tahun yang melelahkan bagi Sumbar akibat hantaman bencana alam. Sawah-sawah tertimbun, akses jalan putus, dan banyak pelaku UMKM yang harus mulai lagi dari nol karena modalnya ludes diterjang musibah.
Ekonomi kita tahun lalu diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3-4 persen. Jadi, hanya keajaiban luar biasa yang membuatnya meloncat ke angka 5,7 persen dalam waktu singkat.
Kepala BI Sumbar, Mohamad Abdul Madjid Ikram, mengingatkan bahwa kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara lama. Sektor pertanian dan UMKM yang menjadi tulang punggung kita saat ini sedang dalam masa pemulihan.
Kalau pun kita mau mengejar target pusat, Sumbar harus berani melirik ‘ladang baru’. Beberapa ide menarik yang bisa digarap seperti bisnis pusat data (data center), sektor kesehatan yang lebih modern, hingga pengolahan sampah menjadi energi. Ini adalah bidang-bidang yang selama ini mungkin belum terpikirkan oleh banyak orang, tapi punya potensi cuan yang menggiurkan.
Meski begitu, fokus jangka pendek kita tetap tidak boleh berubah. Selamatkan petani dan pedagang kecil. Bencana kemarin membuat produksi pangan kita terganggu. Kalau produksi turun, harga-harga di pasar pasti naik, dan yang paling menderita adalah ibu-ibu rumah tangga.
Tugas pemerintah dan BI tahun ini adalah memastikan bibit tersedia, lahan kembali subur, dan modal usaha untuk pedagang kecil kembali mengalir.
Kita tentu ingin ekonomi Sumbar terbang tinggi, tapi kita juga harus menapak bumi. Target 5,7 persen itu bagus sebagai motivasi, tapi angka 4 persen yang diprediksi BI adalah pengingat agar kita tetap realistis. Jangan sampai kita hanya sibuk mengejar angka-angka di atas kertas, sementara warung-warung di pinggir jalan masih sepi dan petani masih kesulitan pupuk.
Tahun 2026 adalah tahun pembuktian. Kita butuh terobosan baru agar ekonomi tidak jalan di tempat, apalagi sampai layu sebelum berkembang. *
