SILEK Tradisi Minangkabau resmi jadi kegiatan ekstrakurikuler wajib buat seluruh siswa SMA, SMK, dan SLB se-Sumatera Barat. Jadi, jangan heran kalau nanti anak-anak kita jago ‘pasang kuda-kuda’.
Wakil Gubernur Vasko Ruseimy yang meluncurkan langsung program ini punya alasan kuat. Menurutnya, silek bukan cuma soal jago berkelahi. Inti dari silek sebenarnya adalah soal adab, etika, dan pembentukan karakter.
Di zaman sekarang yang serba digital ini, anak muda kita butuh pegangan jati diri yang kuat biar tidak hanyut oleh budaya luar. Lewat silek, mereka diajarkan menghargai lawan, menjaga emosi, dan punya mental petarung namun tetap rendah hati.
Program ini sebenarnya sudah mulai diancang-ancang sejak pertengahan tahun lalu, tapi sekarang makin dipatenkan dengan modul pembelajaran yang standar. Artinya, gerak silek yang dipelajari di sekolah satu dengan yang lain bakal punya dasar yang sama.
Hebatnya lagi, latihan silek ini bakal digandengkan dengan kegiatan positif lainnya, seperti tahfiz Al-Qur’an dan pramuka. Sungguh sebuah paket lengkap bagi anak-anak kita. Fisik tangguh, otak encer, dan ibadah pun lancar. Sesuai sekali dengan filosofi ‘Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah’.
Kita tentu mendukung penuh langkah ini. Daripada anak-anak muda kita menghabiskan waktu luang dengan tawuran yang tidak jelas ujung pangkalnya atau kecanduan game online sampai lupa waktu, lebih baik mereka berkumpul di lapangan sekolah untuk belajar warisan nenek moyang. Dengan belajar *silek*, mereka bakal tahu bahwa kekuatan itu gunanya untuk melindungi, bukan untuk menindas yang lemah.
Kita berharap kepada pihak sekolah dan para pelatih agar mengajarkan silek ini dengan hati. Jangan sampai kestrakurikuler wajib ini hanya jadi beban nilai tambahan di rapor saja. Kita ingin anak-anak Sumbar ke depan punya ‘isi’ di dadanya. Biarlah mereka melangkah dengan tegak karena tahu siapa jati diri mereka sebagai orang Minangkabau. Ingat kata pepatah kita, ‘lahia silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan’.
