PAYAKUMBUH, KP – Kesuksesan Festival Maek yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumbar menyisakan kegelisahan bagi Ketua DPRD Sumbar, Supardi. Ia khawatir penelitian tentang peradaban masa lalu di Nagari Maek, Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, tidak akan berlanjut setelah masa jabatannya sebagai anggota DPRD Sumbar berakhir.
“Festival Maek ini mendapat dukungan luas, termasuk dari ilmuwan karena berupaya mengungkap keberadaan peradaban masa lalu. Jika misteri peradaban Maek terkuak, ini bisa membuka mata dunia internasional dan memberi dampak besar bagi Sumbar, terutama Kabupaten Limapuluh Kota, sebagai destinasi wisata yang menarik perhatian dunia,” ujar Supardi, dalam jumpa pers di Agamjua Cafe & ART, Payakumbuh, Sabtu (24/8).
Ia mengungkapkan, penelitian sebelumnya oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1985 menemukan tengkorak di Maek, dan pada tahun 2005 Pusat Riset BRIN melakukan ekskavasi yang menemukan menhir dengan usia antara abad 1 hingga 8 sebelum Masehi di Dangung-dangung.
“Saat ini kita masih menunggu hasil uji karbon tengkorak Maek oleh laboratorium di Australia. Perkiraan sementara tengkorak tersebut berusia sekitar 4.000 tahun sebelum Masehi. Ini menunjukkan bahwa Maek adalah wilayah besar di zamannya,” jelas Supardi.
Ia berharap Festival Maek tidak hanya membuka misteri peradaban Maek, tetapi juga membuka peluang besar bagi sektor pariwisata di Sumbar, khususnya di Kabupaten Limapuluh Kota. (dst)