MOMEN buka puasa bersama di rumah dinas Wali Kota Bukittinggi Kamis lalu (5/3), bukan silaturahmi biasa. Pak Wali Ramlan Nurmatias, titip pesan serius buat para Ketua RT, RW, sampai LPM. Beliau minta mereka jadi ‘mata’ dan ‘telinga’ pemerintah buat urusan kesehatan warga. Intinya sederhana saja, jangan sampai ada warga Bukittinggi yang sakit, tapi tidak bisa berobat gara-gara tidak punya BPJS atau tidak tahu caranya.
Kita tahu sendiri, jabatan RT dan RW itu seringnya dianggap cuma tukang stempel surat pindah atau pengantar bikin KTP. Padahal, mereka ini yang paling tahu kondisi warga. Kalau ada warga yang sakit, tapi cuma bisa diam di rumah karena takut lihat tagihan rumah sakit, di sinilah peran pak RT dan pak RW diuji.
Tapi, urusan birokrasi ada kalanya masih suka bikin pening. Kadang warga mau daftar tapi syaratnya ribet atau petugasnya lagi sibuk ngopi. Nah, di sinilah para tokoh masyarakat tadi harus turun tangan membantu. Jangan biarkan warga bingung sendirian di puskesmas atau rumah sakit.
Program ini bagus sekali, tapi jangan cuma hangat-hangat kuku saja. Kita butuh aksi nyata di lapangan. RT dan RW harus rajin keliling, bukan cuma pas ada bantuan bansos atau ada hajatan warga saja. Pastikan semua warga sudah punya ‘kartu sakti’ kesehatan itu. Sebagai pelayan masyarakat, memang harus siap repot.
Harapan kita, Bukittinggi benar-benar bisa jadi kota yang ‘memanusiakan manusia’, terutama orang sakit. Enak rasanya kalau warga merasa tenang karena ada pemerintah yang sedia payung sebelum hujan. Kekuatan kota itu bukan cuma diukur dari tinggi gagahnya Jam Gadang, tapi dari seberapa sehat orang-orang yang tinggal di sana.
Mari kita kawal bersama supaya tidak ada warga yang merasa sendirian saat sedang susah. Kalau urusan perut sudah kenyang dengan berkah Ramadan, kesehatan harusnya jadi kado yang bikin hati plong buat menyambut hari raya. Sehat itu memang mahal, tapi perhatian pemerintah ke warganya jangan sampai ikutan mahal atau malah menghilang entah ke mana. *
