Home » Unjuk Rasa Warga Air Bangis di Kantor Gubenur Sumbar

Unjuk Rasa Warga Air Bangis di Kantor Gubenur Sumbar

Aksi Tandingan Muncul di Hari Ketiga

Redaksi
A+A-
Reset

PADANG, KP – Hari ketiga aksi demontrasi ribuan masyarakat Nagari Air Bangis, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) di depan Kantor Gubernur Sumbar, Rabu (2/8) mendapat aksi demonstrasi tandingan dari masyarakat Nagari Air Bangis. Aksi tandingan ini dilakukan pihak yang pro terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Air Bangis serta mendukung penegakan hukum pihak kepolisian terhadap pihak yang melanggar PSN.

Jumlah massa tandingan yang mengatasnamakan Anak Nagari Air Bangis lebih sedikit, hanya puluhan orang dibandingkan massa yang telah berunjukrasa selama tiga hari yang jumlahnya diperkirakan mencapai 1.500 orang. Massa tandingan itu langsung ditempatkan polisi di lokasi terpisah. Mereka dibatasi di bagian tengah oleh personel polisi yang membuat formasi pembatas.

Gubernur Sumbar Mahyeldi mempersilahkan kedua kubu yang berseberangan untuk mengutus perwakilan bertemu dengannya di ruang rapat gubernur. Tetapi, massa yang kontra dan beraliansi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumbar itu menolak menemui gubernur di ruangannya. Mereka bersikukuh meminta gubernur untuk menemui mereka di lapangan.

Sementara, massa yang mendukung penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang ingin menggagalkan PSN setuju mengutus perwakilan mereka untuk bertemu dengan gubernur di ruangan rapat di lantai II Kantor Gubernur. Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Mahyeldi didampingi Sekdaprov Hansastri dan sejumlah kepala OPD.

Dalam pertemuan itu, tokoh Masyarakat Air Bangis yang juga mantan walijorong di Kenagarian Air Bangis, Efif Syahrial memaparkan, pihaknya mendukung keputusan Gubernur Sumbar untuk merealisasikan PSN yang telah digaungkan pemerintah sejak tahun 2014 lalu. Ia juga mengutuk aksi demonstrasi yang dilakukan mengatasnamakan masyarakat Air Bangis. Menurutnya, para pendemo tersebut adalah pendatang yang berladang di hutan produktif di Air Bangis.

“Kami sangat menyesalkan pendemo mengatasnamakan warga Air Bangis. Mereka adalah pendatang yang berladang di hutan produktif yang dilarang digarap oleh pemerintah,” tegasnya.

Efif Syahrial menjelaskan, kehadiran mereka sebagai pendatang awalnya perorangan, kemudian membawa rombongan secara bertahap untuk membuka ladang sawit di hutan produktif Air Bangis.

“Saya saat itu menjadi walijorong di sana. Saya yang membangun perkampungan untuk mereka. Saya yang membangun sekolah untuk mereka. Tapi sekarang, mereka melakukan aksi demo mengatasnamakan masyarakat Air Bangis. Yang sangat saya sesalkan, mereka berdemo membawa anak-anak,” tambahnya.

Menurutnya, saat ini telah ada koperasi yang menampung sawit-sawit mereka, tetapi mereka tidak mau menjual sawit ke koperasi.

“Kami warga asli Air Bangis, jangankan kebun sawit, satu batang pohon sawit pun tidak kami miliki. Aksi demo mereka ini ditunggangi oleh pengusaha sawit yang memiliki lahan 300 hektare,” katanya.

Efif Syahrial meminta seluruh masyarakat Air Bangis mendukung PSN yang berada di Air Bangis. Karena dengan proyek itu dapat menghidupkan pertumbuhan ekonomi di Air Bangis.

“Mari kita dukung proyek nasional ini. Jika jalan, proyek ini akan menyerap 32 ribu tenaga kerja. Dampaknya sangat menguntungkan bagi Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Wali Jorong Pasar Duo Suak, Kenagarian Air Bangis. Menurutnya, aksi pendemo ini didukung oleh pengusaha sawit yang mempunyai lahan sawit di hutan produktif Air Bangis.

“Mereka berdemo ditunggangi oleh pengusaha sawit yang mempunyai lahan 300 hektar. Jika mereka tidak ikut berdemo ke Padang, maka akan dikucilkan dari masyarakat,” paparnya.

Gubernur Sumbar Mahyeldi dalam kesempatan tersebut mengakui bahwa hanya satu pihak yang mau berdialog dengannya di ruangan rapat gubernur.

“Saya heran kenapa saya didemo. Saat ke Air Bangis mendistribusikan alat tangkap nelayan, saya justru ditanya kapan proyek akan dimulai,” ungkap Mahyeldi.

Lebih lanjut dijelaskannya, PSN ini telah dicanangkan sejak ia menjabat Wali Kota Padang.

“Saat itu saya menawarkan Bungus untuk dijadikan lokasi PSN, tetapi tidak berjalan. Beberapa daerah lain di Indonesia juga sebelumnya sudah ditawarkan, tetapi tidak memenuhi syarat. Di Pontianak sudah dicoba, di Cilacap juga sudah dicoba, bahkan mereka sudah mengeluarkan uang puluhan miliar rupiah, tapi tidak jadi,” beber Mahyeldi.

Dengan adanya PSN di Air Bangis, maka akan berdampak pada perekonomian Pasbar, Sumbar, dan Sumut.

“Ini adalah potensi. Untuk mendukung ini, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI telah membangun akses jalan ke Pelabuhan Teluk Tapang sebesar Rp800 miliar,” ujarnya.

Selain itu, keberadaan PSN di Air Bangis diharapkan juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat asli Air Bangis. “Bahkan kita akan membuka sekolah di sana,” tuturnya.

Mahyeldi juga menyinggung tentang kepemilikan lahan masyarakat yang beratus-ratus hektare.

Yang namanya rakyat tidak ada memiliki lahan hingga dua ratus hektare. Kalau memiliki lahan sebanyak itu, itu bukan rakyat namanya,” tukasnya.

Aksi massa dua kubu tersebut berakhir pukul 17. 00 WIB setelah masing-masing kubu diperingatkan oleh polisi melalui sirine mobil patwal untuk membubarkan diri. Massa kontra PSN akhirnya kembali ke Masjid Raya Sumbar, untuk menginap kembali di sana sebagai posko mereka.

Koordinator aksi unjuk rasa massa kontra PSN, Aris Ritonga membenarkan bahwa sejumlah orang yang melakukan audiensi dengan gubernur bukan merupakan para pendemo yang telah bertahan selama tiga hari di Kota Padang.

“Kami sudah tiga hari melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Gubenur Sumbar ini untuk menemui Pak Mahyeldi. Kami mengadu kepada beliau, kemana lagi kami mengadu,” katanya. “(Massa) yang di dalam kantor Gubenur itu bukan masyarakat kami, itu adalah massa tandingan bayaran yang baru datang juga untuk menzalimi kami,” imbuhnya. (fai/rdr)

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?