Home » Pj Wako Pariaman dan Jurnalis Jelajahi Tradisi Unik Mentawai

Pj Wako Pariaman dan Jurnalis Jelajahi Tradisi Unik Mentawai

Redaksi
A+A-
Reset

MENTAWAI, KP – Pj Wali Kota Pariaman, Roberia, bersama rombongan jurnalis, melakukan perjalanan ke Muara Siberut, Kabupaten Kepualauan Mentawai, Sabtu (1/2), untuk menggali kearifan lokal masyarakat adat Mentawai. Kunjungan ini bertujuan mempererat hubungan antar-wilayah dan membuka wawasan tentang kekayaan budaya Mentawai yang tetap lestari.

Rombongan bertolak dari Padang pada Sabtu pagi (1/2) menggunakan kapal Mentawai Fast 02 menuju Pulau Siberut. Di kapal, rombongan bercampur dengan wisatawan asing yang hendak berselancar di Mentawai. Perjalanan laut berlangsung lancar hingga tiba di Pelabuhan Sikabaluan pada pukul 11.00 WIB.

Setelah beristirahat sejenak, rombongan bertemu dengan Danramil Sikabaluan, Iskandar, untuk berfoto bersama. Perjalanan dilanjutkan menuju Muara Siberut dan tiba pada pukul 13.30 WIB, disambut oleh Wakapolsek Muara Siberut Iptu Ali serta Kanit Intel Bripka Bagus.

Dalam kunjungan ini, perwakilan dari Rumah Adat Uma, Yosep, menjelaskan beberapa tradisi unik masyarakat Mentawai. Salah satu yang menarik perhatian adalah adat pernikahan, di mana pengantin pria dan wanita harus tidur terpisah selama berbulan-bulan di rumah adat Uma untuk menjaga kesucian rumah tersebut sebelum dapat hidup bersama.

Selain itu, Yosep juga menjelaskan tradisi menyimpan tulang hasil konsumsi dan perburuan di dinding rumah adat Uma. Tengkorak dan tulang yang menghadap ke dalam menandakan hewan ternak yang dikonsumsi, sementara yang menghadap ke luar menunjukkan hasil perburuan.

Uma adalah rumah panggung tradisional suku Mentawai yang berfungsi sebagai pusat kehidupan sosial, budaya, dan spiritual. Rumah ini dihuni oleh beberapa keluarga dengan seorang Sikerei sebagai pemimpin adat. Uma dibangun tanpa paku besi, melainkan dengan sistem tanggam atau ikatan kayu, mencerminkan kearifan lokal dalam konstruksi tradisional.

Selain sebagai tempat tinggal, Uma menjadi lokasi musyawarah, upacara adat, dan tempat penyimpanan pusaka leluhur. Meskipun pemerintah mendorong masyarakat Mentawai untuk berpindah ke pemukiman modern pada 1960-an, banyak yang tetap mempertahankan Uma sebagai simbol identitas budaya mereka.

Hingga kini, rumah adat Uma masih berdiri kokoh di berbagai wilayah Mentawai, menjadi saksi bisu kelestarian budaya yang diwariskan turun-temurun. (wrm)

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?