PADANG, KP — Menjelang Hari Raya Idul Fitri, warga RT 01/RW 01 Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, justru diliputi kecemasan. Selama empat bulan terakhir mereka mengalami krisis air bersih yang membuat aktivitas sehari-hari menjadi serba terbatas.
Di sepanjang rumah warga, pemandangan yang biasanya dipenuhi persiapan Lebaran kini berubah. Deretan stoples kue digantikan barisan ember, baskom, dan jeriken plastik yang disiapkan untuk menampung air bantuan.
Krisis air terjadi setelah sumur-sumur galian milik warga mengering pascabencana yang melanda kawasan tersebut. Sumur yang selama ini menjadi sumber utama untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga kini hanya menyisakan lubang kering tanpa air.
Warga pun sepenuhnya bergantung pada distribusi air tangki dari pemerintah. Mariani, salah seorang warga, mengatakan Ramadan tahun ini terasa jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Tanah sudah benar-benar mati. Untuk memasak saja kami harus menunggu bantuan air yang jadwalnya tidak menentu,” ujarnya seperti dilansir dari TribunPadang.com, Kamis (12/3).
Menurutnya, bantuan air bersih terkadang datang sekali sehari, namun tidak jarang warga harus menunggu hingga dua hari tanpa pasokan air.
Kondisi itu memaksa warga menerapkan penghematan air secara ketat. Air yang tersedia diprioritaskan untuk minum dan memasak, sementara kebutuhan lain harus disesuaikan.
“Lima ember air sering kali tidak cukup untuk kebutuhan satu hari, apalagi kalau anggota keluarga banyak. Kami harus benar-benar hemat,” kata Mariani.
Situasi ini juga membuat tradisi bersih-bersih rumah menjelang Lebaran hampir mustahil dilakukan. Warga mengaku bahkan untuk mandi secara layak pun harus berpikir dua kali. Sebagai alternatif, sebagian warga terpaksa menggunakan air hujan saat persediaan air bantuan habis.
Santi, warga lainnya, mengatakan penggunaan air hujan bukan tanpa keluhan. “Kalau mandi pakai air hujan rasanya berbeda di kulit, seperti licin dan tidak terasa bersih meski sudah pakai sabun. Tapi mau bagaimana lagi, daripada tidak mandi sama sekali,” ujarnya.
Kesulitan air bersih ini juga dikhawatirkan mengganggu aktivitas ibadah, terutama kebutuhan bersuci seperti wudu yang biasanya mudah dilakukan di rumah.
Pengamatan di lapangan menunjukkan kondisi tanah di kawasan tersebut telah merekah dan kering. Warga berharap pemerintah dapat mempercepat penanganan krisis air atau setidaknya memberikan kepastian jadwal distribusi air tangki. Dengan kepastian tersebut, warga tidak perlu menunggu sepanjang hari hanya untuk memastikan wadah mereka terisi air. (trb)
