Ilustrasi by @Kurniawati1999
Hesti Agustin Alumni SLC 2024 Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Dalam setiap generasi, tentu selalu kita temukan tokoh-tokoh yang menginspirasi semangat juang. Seperti salah satunya tokoh dari Sumatera Barat, Muhammad Hatta. Ia lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Seorang intelektual dan proklamator yang banyak menghabiskan hidupnya dengan buku. Bahkan Hatta membawa jutaan buku ketika ia pulang dari studinya di Belanda. Hatta harus memikirkan bagaimana cara membawa buku-bukunya yang kurang lebih 16 peti. Tidak hanya itu, saat dalam pengasingan di Banda Neira, permintaan Hatta adalah dikirimi buku.
Hatta merupakan sosok yang selalu meluangkan waktu untuk membaca di tengah kesibukannya. Seakan-akan membaca adalah makanan pokok baginya. Bahkan Hatta memiliki koleksi perpustakaan pribadi yang sangat luas dan beragam. Buku-buku tersebut membuat Hatta kaya akan pengetahun serta membentuk pandangan hidup dan strategi perjuangannya.
Hatta menghadapi berbagai tantangan untuk mendapakan akses membaca buku seperti masa pengasingan, keterbatasan sumber daya, dan kondisi politik yang tidak stabil. Hal tersebut bukan berarti Hatta berhenti membaca. Semangatnya untuk membaca dan belajar terus berkobar dan tidak pernah surut. Selalu ada cara yang ia dapatkan agar tetap bisa membaca, meskipun dalam kondisi yang kurang mendukung.
Namun apa jadinya jika Bung Hatta hidup di era digital? Dengan teknologi yang serba canggih dan mudah didapatkan. Tidak perlu jauh-jauh ke perpustakaan untuk membaca, cukup dengan teknologi yang ada, semua bisa diakses dengan mudah. Ada banyak aplikasi yang menawarkan bacaan, sehingga mudah dilakukan di mana saja secara fleksibel. Hatta yang gemar membaca, mungkin akan tertaring dengan e-book, dengan perpustakaan digital dan jurnal elektronik yang bisa diakses kapan saja. Hatta akan memiliki kesempatan yang luas untuk menambah pengetahuan dan wawasan tanpa batas. Bahkan dipengasingan, Hatta tidak perlu berkirim surat untuk meminta sahabatnya mengirimkan buku.
Sayangnya, di era yang serba canggih ini hanya segelintir orang yang memanfaatkan teknologi tersebut. Tidak banyak sosok Hatta ditemui di era ini, padahal tidak perlu bersusah payah membawa buku kemana-mana. Cukup dengan satu ponsel di tangan, semua bisa diatasi. Hanya menggunakan jari untuk ketik yang ingin dibacakan, semua datang dengan sendirinya. Masyarakat khususnya anak muda, lebih memilih membuka aplikasi hiburan dibanding perpustakaan digital. Lebih cenderung memillih konten yang dapat dikosumsi dalam waktu singkat dan memberikan hiburan segera, dibandingkan membuka e-book yang akan memakan waktu membacanya bagi mereka.
Berdasarkan data dari PISA 2022, literasi membaca Indonesia mengalami penurunan. Tercatat skor pada tahun 2022 sebesar 359 poin, sedangkan pada tahun 2018 tercatat 371 poin. Hal tersebut menandakan kurangnya minat masyarakat Indonesia dalam membaca. Bahkan di saat teknologi sudah semakin cangggih, Indonesia masih duduk di bangku minat literasi rendah.
Belajar dari Hatta yang memiliki semangat tinggi dalam membaca, tentu akan ada perubahan yang signifikan bagi Indonesia, jika generasi sekarang mengambil semangat dan kecintaan tersebut. Membaca bukan sekedar mengumpulkan berbagai informasi, tetapi lebih dari itu. Membaca akan membentuk karakter seseorang, memahami dunia dengan baik dan menambah wawasan.
Menghidupkan kembali semangat Hatta mencintai buku adalah tugas bersama. Di tengah derasnya arus digitalisasi, mari tenggelam dalam lautan pengetahuan dan menjadikan setiap halaman yang dibaca sebagai mercusuar bagi masa depan yang gemilang. Jika Hatta bisa menyalakan pelita ilmu dalam keterbatasan, kita pun bisa menciptakan sinar terang dalam kemudahan teknologi. Mari bergerak maju dengan meneladani semangatnya, karena membaca bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk membangun peradaban yang abadi.