Abu Marapi Ancam Sektor Perikanan di Tanah Datar

Bupati Tanah Datar Eka Putra membagikan masker kepada masyarakat di sekitar Kota Batusangkar.

TANAH DATAR, KP – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Api Marapi yang terjadi Senin sore (5/2) mencapai Kota Batusangkar dan sekitarnya. Untuk mengatasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat, Bupati Tanah Datar Eka Putra membagikan masker kepada masyarakat di sekitar Kota Batusangkar.

Bupati Eka Putra mengingatkan bahwa status Gunung Api Marapi masih berada pada level 3 meskipun beberapa hari sebelumnya aktivitas Marapi sempat melandai. Namun, Marapi kembali mengalami erupsi pada Senin sore (5/2) dan angin membawa abu ke wilayah Tanah Datar.

Bupati mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan selalu waspada terhadap berita palsu atau hoaks.

“Harap berhati-hati terhadap berita hoaks atau informasi yang tidak jelas kebenarannya. Percayakan instruksi atau kabar dari pemerintah. Kami akan terus memperbarui perkembangan situasi agar masyarakat tidak gelisah,” katanya.

Bupati Eka Putra juga mengeluarkan edaran terkait antisipasi kerugian akibat abu vulkanik Gunung Marapi di sektor perikanan. Edaran tersebut dikeluarkan untuk meminimalisir dampak bagi masyarakat yang memiliki kolam, perairan umum, dan kolam terpal/budikdamber, baik perorangan maupun berkelompok di Tanah Datar.

“Dampak abu vulkanik terhadap ikan menyebabkan daya hidup ikan berkurang karena abu vulkanik yang masuk ke dalam kolam mengandung belerang yang dapat menyebabkan ikan berjamur dan kualitas air kolam menjadi lebih asam (Ph 4-5). Sehingga, kematian bibit ikan akan menjadi lebih tinggi,” kata Eka, Selasa (6/2).

Untuk mengantisipasi hal itu, ia menganjurkan beberapa strategi kepada pemilik kolam.

“Antisipasi yang kami anjurkan termasuk membuat atap dari plastik UV mulsa sehingga cahaya matahari tetap bisa masuk ke kolam tersebut, serta memberikan obat-obatan anti jamur untuk ikan, probiotik (EM4, Eco Enzyme, probiotik buatan pabrik), dan vitamin ikan (C-San aquatic/Biovit aquatic),” jelasnya.

Bupati juga menyarankan untuk memberikan garam krosok/garam ikan (tanpa yodium) untuk menormalkan pH air kolam dengan dosis 1 persen dari total volume air kolam keseluruhan dan diberikan sedikit demi sedikit selama 48 jam, jangan langsung seluruhnya.

“Khusus untuk infeksi jamur, dosis yang diberikan adalah 2,5 persen dari volume air kolam untuk mengatasi serangan parasit,” imbuhnya.

Selain garam, daun ketapang yang sudah menguning juga dapat diberikan di sekeliling kolam karena bersifat basa dan dapat menetralkan kelebihan asam dalam air kolam serta menetralisir logam berat dalam air kolam.

“Pastikan air masuk dan keluar dari kolam ikan lancar agar abu vulkanik yang mengendap dapat terbawa arus keluar. Selain itu, lakukan penggantian air sebanyak 20 hingga 30 persen bagi kolam yang terkena abu vulkanik, terutama bagi kolam yang memanfaatkan air hujan/kolam terpal/budikdamber,” tambahnya.

Lebih lanjut, Bupati Eka menyatakan jika ditemukan kematian ikan dalam jumlah yang tidak wajar dan diduga akibat abu erupsi Marapi, agar segera dilaporkan ke pemerintah daerah melalui wali nagari, camat, dan penyuluh/petugas bidang perikanan. (nas)

Related posts

Pencarian Resmi Dihentikan, Dua Pelajar Tenggelam di Padang Belum Ditemukan

DPRD Kabupaten Solok Sampaikan Rekomendasi LKPJ 2025, Tekankan Perbaikan Kinerja OPD

Tanah Datar–Mandailing Natal Perkuat Kolaborasi Pembangunan Antar Daerah