PADANG, KP — Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah mengungkapkan kekhawatiran terhadap meningkatnya angka stunting di daerah itu. Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting di Sumbar naik 1,3 persen, dari 23,6 persen pada 2023 menjadi 24,9 persen pada 2024.
“Ini bukan angka kecil dan harus menjadi perhatian serius. Kenaikan ini menandakan masih ada celah dalam pelaksanaan program di lapangan, terutama dalam upaya pencegahan sejak dini,” ujar Mahyeldi saat membuka Rapat Koordinasi Regional Program Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025 di Padang, Kamis (9/10).
Rakor bertema “Cegah Stunting Itu Penting” itu dihadiri pejabat pusat, kepala daerah kabupaten/kota, dan berbagai pemangku kepentingan. Dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan komitmen percepatan penurunan stunting.
Mahyeldi menegaskan, stunting bukan sekadar isu kesehatan, tetapi berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) masa depan. “Anak stunting berisiko mengalami hambatan perkembangan otak dan fisik, yang memengaruhi kecerdasan, kemampuan belajar, bahkan peluang kerja di masa depan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya penguatan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan dunia usaha diminta bergerak bersama memberikan intervensi nyata.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Sumbar telah menjalankan program Nagari Generasi Emas di 60 nagari prioritas, dengan fokus pada layanan kesehatan ibu hamil, balita, dan remaja. Intervensi juga mencakup pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) dan balita bermasalah gizi. “Kami melibatkan rumah sakit, perguruan tinggi, dan tokoh masyarakat. Lima perguruan tinggi di Sumbar bahkan telah ikut dalam KKN tematik stunting di 19 kabupaten/kota,” ujarnya.
Mahyeldi juga mendorong inovasi daerah. Menurutnya, setiap nagari memiliki karakteristik sosial-budaya yang berbeda, sehingga pendekatan intervensi harus disesuaikan dengan kondisi lokal.
Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan SDM Setwapres, Dyah Kusumastuti, menilai Sumbar perlu memperkuat strategi pencegahan.“Fokus utama harus bergeser dari penanganan ke pencegahan. Ini lebih efektif dan berkelanjutan, terutama jika dilakukan sejak masa pranikah dan kehamilan,” ujarnya.
Secara nasional, prevalensi stunting turun 27,4 persen dalam 11 tahun terakhir. Namun, Dyah menilai tren peningkatan di Sumbar harus menjadi peringatan untuk membenahi tata kelola program.
Rapat ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama percepatan penurunan stunting antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota se-Sumbar.
Mahyeldi berharap, komitmen itu menjadi momentum memperkuat sinergi seluruh pihak. “Kita tidak boleh lengah. Kenaikan angka stunting harus menjadi cambuk untuk bekerja lebih cepat, lebih fokus, dan lebih kolaboratif agar Sumbar melahirkan generasi emas yang sehat dan unggul,” tutupnya. (fai)
