Badan Geologi Laporkan Sejumlah Perkembangan Aktivitas Gunung Marapi

Puncak Gunung Marapi di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat ditutupi awan.

PADANG, KP – Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melaporkan perkembangan terkini mengenai aktivitas Gunung Marapi yang terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.

“Erupsi atau letusan yang terjadi secara tidak kontinu masih berlanjut hingga saat ini sebagai akibat dari pasokan fluida/magma yang berasal dari kedalaman tubuh gunung,” ujar Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, melalui keterangan tertulis yang diterima di Padang, Minggu (27/4).

Pada Minggu pagi, Pos Pengamatan Gunung Api setempat melaporkan terjadinya erupsi pada pukul 08.37 WIB. Kolom abu vulkanik yang teramati memiliki ketinggian mencapai 1.000 meter di atas puncak. Sebelum erupsi ini terjadi, data pengamatan menunjukkan tidak ada pasokan fluida/magma yang signifikan dari kedalaman.

“Secara kegempaan, tidak terlihat adanya peningkatan aktivitas yang signifikan,” tambah Muhammad Wafid.

Data variasi kecepatan seismik saat ini berfluktuasi di sekitar nilai nol dengan simpangan yang relatif kecil, mengindikasikan bahwa tekanan (stress) pada tubuh gunung api relatif kecil. Koherensi seismik bernilai sekitar 0,7, yang menggambarkan kondisi medium di dekat permukaan gunung yang cenderung stabil.

Dari pantauan satelit, laju emisi gas SO2 juga menunjukkan sifat fluktuatif tanpa adanya pola peningkatan signifikan. Berdasarkan pengukuran terakhir pada 22 April 2025, tercatat emisi gas SO2 sebesar 187 ton/hari.

Muhammad Wafid menjelaskan, erupsi-erupsi yang terjadi pada Gunung Marapi diperkirakan disebabkan oleh buka tutup ventilasi konduit di bagian dasar Kawah Verbeek. Ketika lava mengeras akibat proses pendinginan, ventilasi konduit akan menutup, sehingga gas magmatik tidak dapat terlepas ke atmosfer, yang menyebabkan akumulasi tekanan di bagian dangkal dekat permukaan.

“Saat tekanan mencapai batas kejenuhan, akan terjadi erupsi dan ventilasi konduit membuka kembali,” jelasnya.

Proses ini diperkirakan akan berulang, dan selama dinamika pasokan fluida/magma dari kedalaman masih berlangsung, erupsi-erupsi dengan tinggi kolom yang fluktuatif dapat terjadi kembali. “Potensi terjadinya letusan masih tetap ada dan dapat terjadi sewaktu-waktu sebagai bentuk pelepasan energi,” ujar Wafid, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. (ant)

Related posts

Banjir Bandang Rusak Infrastruktur dan Sawah Warga di Limapuluh Kota

Dubalang Kota Dievaluasi, Keamanan Berbasis Adat Diperkuat

Pemko Padang Siapkan Rp16 Miliar untuk Pelebaran Jalan Kurao–Maransi Hingga Bypass