PADANG, KP — Tekad kuat untuk menunaikan rukun Islam kelima melalui perjalanan fisik yang berat kembali ditunjukkan oleh Syeckh Muhammad Alif. Pria asal Kota Padang ini resmi memulai perjalanan berjalan kaki menuju Mekkah, Arab Saudi, yang dilepas secara emosional usai pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Mujahiddin, Padang, Jumat (16/1).
Keberangkatan Alif diiringi lantunan takbir dan doa dari ratusan jemaah serta tangis haru keluarga yang melepasnya di halaman masjid. Alif menargetkan perjalanan lintas negara ini akan memakan waktu sekitar satu tahun agar bisa sampai di Tanah Suci tepat pada musim haji mendatang.
“Ini adalah bentuk keteguhan niat saya untuk menunaikan ibadah haji. Saya berharap perjalanan kali ini dilancarkan hingga mencapai Mekkah dan dapat menunaikan rangkaian ibadah secara utuh,” ungkap Alif sesaat sebelum memulai langkah pertamanya.
Perjalanan kali ini merupakan upaya ketiga bagi Alif setelah dua percobaan sebelumnya menemui jalan buntu. Pada tahun 2012, langkahnya terhenti saat memasuki wilayah Myanmar karena kendala situasi di perbatasan. Sementara pada percobaan kedua, perjalanannya hanya sampai di Batam akibat penutupan akses antarnegara selama pandemi COVID-19.
Pada perjalanan kali ini, ia hanya membawa perlengkapan seperlunya yang dikemas dalam tas punggung, mengandalkan stamina fisik dan bantuan masyarakat di sepanjang rute yang akan ia lalui nantinya.
Aksi Alif ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial sebagai simbol perjuangan tanpa henti demi mewujudkan impian ibadah ke baitullah.
Kanwil Kemenhaj Sumbar Ingatkan Soal Visa
Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kanwil Kemenhaj) Provinsi Sumatera Barat memberikan tanggapan terkait aksi Muhammad Alif, warga Kota Padang yang memulai perjalanan berjalan kaki menuju Mekkah. Meski mengapresiasi semangat spiritual tersebut, otoritas terkait mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi keimigrasian dan prosedur haji di Arab Saudi.
Plt. Kepala Kanwil Kemenhaj Sumbar, M. Rifki, menyatakan bahwa antusiasme masyarakat untuk berhaji dengan cara mandiri, baik berjalan kaki maupun bersepeda bukanlah fenomena baru. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan fisik mencapai Tanah Suci tidak secara otomatis memberikan akses untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji tanpa dokumen yang sah.
“Pertama, kita mengapresiasi antusias masyarakat untuk menunaikan ibadah haji walaupun dengan berjalan kaki. Namun, yang perlu diingat adalah semua orang yang ingin masuk ke Arab Saudi (untuk haji) wajib menggunakan visa haji,” ujar M. Rifki di Padang, Sabtu (17/1).
Rifki menceritakan pengalamannya pada tahun 2024 saat bertemu jemaah asal Indonesia yang tiba di Arab Saudi setelah bersepeda selama sembilan bulan. Sayangnya, waktu kedatangan jemaah tersebut tidak bertepatan dengan musim haji sehingga yang bersangkutan hanya diperbolehkan melaksanakan ibadah umrah.
Pemerintah mengingatkan agar setiap individu yang memilih jalur mandiri tetap waspada dan tidak terjebak dalam praktik penipuan visa. Regulasi ketat yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap calon jemaah memiliki visa haji resmi yang dikeluarkan melalui saluran prosedural untuk dapat masuk ke wilayah Masyair (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) saat puncak haji.
“Kami mengingatkan setiap individu agar tidak terjebak penipuan. Pastikan dokumen perjalanan dan izin masuk sesuai dengan aturan yang berlaku di Arab Saudi agar niat ibadah dapat terlaksana dengan baik dan legal,” pungkasnya. (ant)