PADANG, KP – Sekretaris Utama (Sestama) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Budi Setiyono, mengingatkan pentingnya jaminan hari tua bagi masyarakat, terutama lansia. Menurutnya, hal ini bisa menjadi hambatan besar dalam membentuk generasi berkualitas.
Budi mengungkapkan, saat ini hanya lima persen lansia yang memiliki akses jaminan hari tua, sementara 95 persen lainnya belum terlindungi. Kondisi ini bisa menjadi tantangan serius bagi Indonesia Emas 2045.
“Kalau ingin menjadi negara maju, syarat utamanya adalah membentuk generasi yang berkualitas, dengan skill matang dan berguna bagi kehidupan. Namun, kita tidak bisa mengabaikan keberlangsungan hidup lansia,” ujar Budi, saat berdiskusi dengan media di Padang, Jumat (12/9).
Ia mendorong pemerintah daerah, mulai dari tingkat desa hingga provinsi, untuk memperhatikan aspek kependudukan secara komprehensif. Menurutnya, setiap daerah perlu memiliki peta jalan program kependudukan yang terintegrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) masing-masing.
“Peta jalan itu harus mencakup indikator kesehatan, jumlah lapangan pekerjaan, hingga pemetaan kebutuhan skill sesuai dunia kerja. Dengan begitu, pembangunan penduduk bisa benar-benar menopang target Indonesia maju,” tegasnya.
Budi juga menekankan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengimplementasikan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK). PJPK merupakan dokumen strategis nasional yang menjadi pedoman untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
“Perguruan tinggi harus berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Implementasi PJPK tidak mungkin berjalan optimal tanpa dukungan akademisi yang mampu memberikan kajian, data, dan solusi berbasis riset,” kata dia. (fai)