PADANG, KP – Warga Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, mulai mencemaskan ancaman penyakit di tengah kekeringan yang tak kunjung berakhir, Selasa (27/1). Selain krisis air bersih, limbah rumah tangga yang menumpuk di saluran belakang rumah warga kini menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi memicu masalah kesehatan.
Kondisi tersebut terjadi akibat tidak adanya aliran air yang biasanya berfungsi mendorong limbah di saluran pembuangan. Sejak kekeringan melanda kawasan itu sejak akhir tahun lalu, genangan limbah menjadi statis dan tidak terurai.
Yuhandri Syaf, salah seorang warga, mengatakan parit-parit yang mengering kini berubah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Warga pun mulai khawatir akan munculnya wabah penyakit, terutama demam berdarah dengue (DBD), yang dinilai sangat berisiko bagi anak-anak. “Parit kering, airnya tergenang dan tidak mengalir. Sekarang nyamuk mulai banyak. Kami khawatir nanti muncul penyakit,” ujar Yuhandri dikutip dari tribunpadang.com.
Warga berharap Pemerintah Kota Padang tidak hanya memberikan bantuan air bersih melalui mobil tangki yang bersifat sementara, tetapi juga menghadirkan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan tersebut. Harapan ini semakin mendesak seiring mendekatnya bulan suci Ramadan.
“Sebentar lagi masuk bulan Ramadan. Kami berharap ada solusi permanen supaya tidak lagi kesusahan mencari air, terutama untuk wudhu dan kebutuhan sahur,” tambahnya.
Kekeringan ekstrem di kawasan Pasa Ambacang bukan terjadi dalam hitungan hari, melainkan telah berlangsung sejak akhir tahun 2025 dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Kondisi tersebut memaksa warga mencari sumber air alternatif dengan jarak yang tidak dekat.
Yuhandri mengungkapkan, setiap hari ia harus menempuh perjalanan lebih dari satu kilometer menggunakan sepeda motor untuk mengambil air dari sebuah sumur di dekat jembatan. Sebenarnya terdapat jalur pintas yang lebih dekat jika ditempuh dengan berjalan kaki, namun sulit dilalui karena harus memikul jerigen air. “Kalau jalan kaki memang lebih dekat, tidak sampai setengah kilometer. Tapi susah membawa airnya. Jadi terpaksa pakai motor, meski jaraknya lebih jauh,” katanya.
Dalam sehari, Yuhandri sedikitnya mengangkut sembilan jerigen air pada pagi dan sore hari. Aktivitas tersebut menjadi beban tambahan di tengah kewajibannya sebagai kepala keluarga yang tetap harus bekerja.
Hal senada disampaikan istri Yuhandri, Rosi. Ia mengaku kesulitan menjalani aktivitas rumah tangga tanpa pasokan air bersih yang memadai, mulai dari memasak, mencuci, hingga menjaga kebersihan keluarga. (trb)