Home » Nagari Maek Berpotensi Jadi Ikon Pariwisata Peradaban

Nagari Maek Berpotensi Jadi Ikon Pariwisata Peradaban

Redaksi
A+A-
Reset

PAYAKUMBUH, KP – Nagari Seribu Menhir Maek di Kabupaten Limapuluh Kota memiliki potensi besar untuk menjadi ikon pariwisata peradaban masa lalu. Hal ini diungkapkan Ketua DPRD Sumbar Supardi, saat membuka Diskusi Internasional Hasil Riset dan FGD, di Aula Ngalau Indah Balaikota Payakumbuh.  Diskusi ini melibatkan pembicara dari Mesir, Jepang, dan Indonesia.

Supardi menyampaikan, inspirasi peradaban Maek telah didiskusikan sejak tahun 2022 dengan para tokoh dan dosen.

“Para pakar peneliti dunia dan UGM telah memulai berbagai ekskavasi terhadap tengkorak yang ditemukan, namun belum menemui titik terang baik dalam DNA maupun masa usia keberadaan peradaban Maek,” ujarnya.

Supardi menyebut, Festival Maek mendapat dukungan dari banyak pihak untuk mengungkap keberadaan peradaban tersebut.

“Jika ini terungkap, tentu akan membuka mata dunia internasional dan memberikan dampak positif bagi Luak Limapuluh Kota dan Sumbar,” ucapnya.

Sementara, Sekda Payakumbuh Rida Ananda mengatakan, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Payakumbuh yang dikenal sebagai ‘Kota Randang’.

“Payakumbuh siap menyambut kedatangan para tamu Festival Maek,” ujarnya.

 

Pameran Fosil Tengkorak Megalithikum

 

Mengawali Festival Maek, diadakan pameran fosil hasil ekskavasi kuburan di bawah menhir. Pameran ini digelar di Gedung Gambir Kota Payakumbuh dan dibuka Ketua DPRD Sumbar Supardi, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Jefrinal Arifin, Wakil Ketua DPRD Payakumbuh Wulan Denura, dan tokoh lainnya.

Supardi menjelaskan, pameran ini bertujuan untuk memperkenalkan Maek dan peradabannya kepada masyarakat luas.

“Menhir sebagai jejak peradaban menyimpan banyak misteri. Pada pameran ini, masyarakat bisa melihat hasil penelitian para ahli termasuk artefak kuno yang menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban Maek,” jelasnya.

Peneliti dari Balai Riset Inovasi Nasional (BRIN) Triwurjani, menyambut baik Festival Maek ini sebagai bentuk pengenalan sejarah nenek moyang.

“Kami dari BRIN sengaja membawa fosil tengkorak manusia hasil ekskavasi tahun 1985 sebagai bentuk penghargaan atas kegiatan ini,” ungkapnya.

Pameran Hasil Riset Maek ini merupakan rangkaian kegiatan Festival Maek yang digelar melalui dana pokir Ketua DPRD Sumbar Supardi. Puncak festival akan dilaksanakan di Nagari Maek pada 17-20 Juli mendatang dengan berbagai atraksi dan kesenian dari dalam dan luar negeri. (fai)

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?