LIMAPULUH KOTA, KP – Popularitas budidaya pisang Cavendish di Kabupaten Limapuluh Kota terus meningkat. Setelah berkembang di Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Luhak, dan Lareh Sago Halaban, kini tanaman bernilai ekonomi tinggi itu mulai diminati petani di Kecamatan Akabiluru, Payakumbuh, dan Harau.
Pisang Cavendish dikenal dengan buah yang lebat dan batang tanaman yang tidak terlalu tinggi. Pangsa pasar yang luas serta harga jual yang stabil membuat tanaman ini kian diminati, bahkan menggantikan komoditas pertanian lainnya.
“Alhamdulillah, saat ini masyarakat yang menanam pisang Cavendish terus bertambah dan hampir tersebar di seluruh kecamatan,” ujar pembudidaya pisang Cavendish, Deki Yusman, saat meninjau lahan miliknya di Jorong Boncah, Nagari Batu Balang, Kecamatan Harau, Minggu (1/6).
Deki yang juga mantan Camat Harau itu terus mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan tidur guna mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan keluarga. “Kita ingin mendukung program ketahanan pangan sesuai arahan Presiden dan visi-misi Bupati dan Wakil Bupati Limapuluh Kota,” jelasnya.
Deki menyebut, pasar untuk pisang Cavendish sangat terbuka, tidak hanya di Sumatera Barat dan Riau, tetapi juga di pasar modern nasional. Sayangnya, produksi belum bisa memenuhi permintaan karena jumlah petani yang masih terbatas.
“Saya terus melakukan pembinaan agar masyarakat menanam dengan mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang benar. Tujuannya agar hasil panen maksimal dan ekonomi masyarakat meningkat,” jelasnya.
Di lahan miliknya di Jorong Boncah, saat ini Deki telah menanam sekitar 2.000 batang pisang Cavendish. Setiap batang berpotensi menghasilkan 100 hingga 150 buah pisang.
Harapkan Dukungan Pemerintah dan Perbankan
Deki juga berharap Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota melalui dinas terkait dapat memberikan perhatian lebih kepada petani dan generasi muda agar tertarik mengolah lahan tidur. “Peranan pemerintah sangat dibutuhkan, baik untuk mengedukasi masyarakat yang belum bekerja agar mau bertani, maupun membantu petani yang terkendala dalam permodalan,” ujarnya.
Menurutnya, masih banyak petani yang belum memahami akses terhadap perbankan untuk mendukung usaha pertanian mereka. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya peran aktif dari Dinas Pertanian untuk menjembatani kebutuhan ini. (dst)