PADANG, KP – Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, mengkritisi pola pikir konvensional di lingkungan organisasi perangkat daerah (OPD) yang seringkali menjadikan ketiadaan anggaran sebagai alasan untuk tidak melaksanakan program.
“Coba biasanya kalau kita datang ke tiap-tiap dinas, biasanya jawabannya tidak ada uang, tidak ada anggaran, selalu di situ. Itu pola pikir yang konvensional,” ungkap Vasko, Kamis (24/4).
Menurutnya, tantangan tersebut harus dihadapi dengan inovasi mengingat tuntutan masyarakat di era keterbukaan informasi saat ini semakin tinggi.
“Masyarakat menuntut kita semuanya berjalan dengan baik. Jika tak berjalan dengan baik, kita dianggap tak bekerja oleh masyarakat,” jelas Vasko.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya penguatan pola pikir inovatif di kalangan aparatur pemerintah. Hal ini sejalan dengan langkah Pemprov Sumbar yang sedang mengembangkan program unggulan ‘Nagari Creative Hub’ sebagai solusi inovatif untuk mendukung usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan optimalisasi potensi lokal melalui pendekatan digital.
“Untuk digital UMKM, pola perekonomian di Sumbar ini menarik. Kita akan mendorong investasi besar, tetapi kita tidak lupa untuk menjaga buffer-nya,” kata Vasko.
Ia juga menyoroti keunikan Sumatera Barat dari sisi indeks gini ratio yang tergolong rendah di Indonesia, yakni 0,287. Indeks ini menunjukkan tingkat kesenjangan ekonomi yang relatif kecil. Ia mencontohkan, orang yang paling kurang mampu di Sumbar masih bisa makan.
“Hal ini berbeda dengan daerah lain,” terangnya.
Menurut wagub, fenomena tersebut menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan strategi ekonomi daerah.
Ia menekankan, program Nagari Creative Hub hadir sebagai solusi untuk memperkuat ekonomi lokal dengan memanfaatkan keberagaman potensi di setiap wilayah.
“Jangankan di tiap kabupaten dan kota, di tiap nagari itu potensi lokalnya berbeda. Itu yang kita gemborkan ke dunia, seiring dengan upaya penguatan potensi lokal melalui digitalisasu,” pungkas Vasko. (fai)
