Kapolres Padang Pariaman AKBP Abdul Azis mengajak masyarakat untuk tidak membeli BBM eceran untuk menghindari BBM oplosan. Kapolres Abdul Azis mengemukakan pendapatnya tersebut pasca-terungkapnya kasus BBM oplosan oleh seorang ibu rumah tangga berinisial SD, seperti diberitakan KORAN PADANG terbitan Kamis (13/7).
Saat menggerebek kediaman pelaku, polisi menemukan 1.600 liter BBM jenis pertalite dan pertamax. Lalu ada BBM ilegal yang didatangkan dari Palembang. ‘Hebat’ juga jaringan IRT ini. Dalam menjalankan aksinya, pelaku mengoplos BBM dengan pewarna sehingga menyerupai BBM asli. Akibat perbuatannya, banyak warga yang mengeluh motornya rusak. Polisi pun turun tangan melalukan penyelidikan. Akhirnya, terbongkarlah aksi kejahatan pelaku.
Peristiwa ini merupakan ‘tantangan’ bagi kelengahan lembaga pemerintahan selama ini. Mungkin saja masih banyak penjual BBM eceran hasil oplosan di berbagai daerah. Yang tertangkap baru satu orang. Hingga ke pedalaman, pelosok kampung, begitu banyak penjual eceran BBM. Meski demikian, tentu ada juga penjual BBM eceran yang jujur, dalam artian tidak mengoplos BBM yang dijualnya.
Kita pun maklum, mereka menjual BBM eceran untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tak berharap untung besar. Yang penting, dapur tetap berasap dan periuk nasinya tetap berisi. Namun, dengan kejadian ini tentu masyarakat jadi was-was.
Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah memaksimalkan upaya menggelorakan semangat bisnis di pedesaan. Alihkan masyarakat yang selama ini berusaha di zona ‘abu-abu’ dan rentan terjerat hukum ke bidang usaha resmi dan legal. Bantu mereka permodalan, dampingi dan beri mereka pelatihan sehingga bisa mandiri.
Di sisi lain, beragam kebutuhan yang diperlukan warga pedalaman sudah saatnya dipermudah. Apalagi kenderaan roda dua semakin ‘merajai’ jalanan di Sumbar, pertanda ekonomi rakyat terus membaik. Di sinilah perlunya penjualan resmi BBM makin dimaksimalkan, terutama di daerah pedalaman. Insya Allah negeri makin sejahtera kalau warganya kreatif berbisnis secara resmi dan legal. *