HARUS diakui, Satpol PP Kota Padang terus bergerak dinamis menertibkan beragam pelanggaran perda yang terjadi di ibukota provinsi Sumbar itu. Namun, yang paling sering jadi sasaran penertiban adalah pedagang kaki lima (PKL).
Sebenarnya kita cukup miris dengan hal ini. Sebab, penertiban yang dilakukan Satpol PP sepertinya tak ada perubahan dari musim ke musim. Tertib sebentar, Satpol PP pergi, PKL datang lagi. Begitulah terus menerus, dari musim ke musim. Kucing-kucingan antara PKL dengan Satpol PP terus terjadi.
Sudah sejak lama warga Padang terkenal dengan kegigihannya dalam berusaha. Di mana saja pasar di republik ini, pasti banyak PKL-nya yang berasal dari Padang atau Sumbar secara umum. Bahkan, untuk kawasan Asia Tenggara sekalipun, di masing-masing kota besar maupun kecil pasti ada urang awak yang manggaleh. Begitu benar kehebatan ‘si Padang mencari uang’.
Kita pun maklum, mereka yang ‘terdampar’ sebagai PKL pertanda kekerasan hatinya mandiri dalam berusaha. Tidak selamanya PKL tersebut diburu-buru aparat penertiban. Hal demikian hanya pengalaman hidup sementara saja. Sekadar latihan mental belaka. Percayalah, tak begitu lama, PKL tersebut akan berangsur-angsur mandiri. Tentunya kalau patuh dengan aturan. Lama-kelamaan ‘lulus ujian’ dan menjadi pedagang besar, grosir, bahkan pengusaha berdasi.
Bagi PKL yang berhasil menjalankan usahanya di Padang, ketika pindah usaha ke kota lain, biasanya yang bersangkutan akan semakin sukses.
Bagaimanapun juga, PKL yang hebat bukanlah mereka yang menganggap aparat ketertiban sebagai lawan. Boleh jadi sebagai teman berbaik-baik dalam pergaulan.
Namun demikian, memang ada juga PKL yang dihantui ketakutan ketika berhadapan dengan tim penertiban. Tapi jumlahnya tak seberapa. Mereka akhirnya tutup lapak. Yang pulang kampung juga ada. Mungkin bisa dikatakan, mereka termasuk kategori yang sulit beradaptasi dalam pergulatan di kota yang ramai penduduknya.
Yang jelas, pengusaha sukses yang banyak terdapat di negeri ini adalah mereka yang lihai sewaktu berusia dini. Karatau madang daulu, di kampung paguno balun. Begitulah yang sebenarnya. Mereka yang sukses berbisnis sekarang, waktu mudanya meninggalkan kampung. Berusaha di rantau. Sukses. Mereka yang sukses di era sekarang ini, boleh jadi sudah kenyang pengalaman berhadapan dengan Satpol PP puluhan tahun lalu dan akhirnya sadar bahwa melawan aturan itu takkan berujung nikmat.
Kita tentu berharap Satpol PP terus menegakkan aturan agar Padang kota tercinta ini semakin tertib. Sementara PKL jangan melawan juga pada Satpol PP. Insyaallah sama-sama selamat dan sama-sama senang. *