Masjid Megah Saf Bolong-bolong

Ahmad Kharisma (Wartawan Koran Padang)

MEMBANGUN masjid yang megah sampai ke pelosok nagari memang sudah jadi hobi urang awak sejak lama. Tengok saja di sepanjang jalan lintas atau di atas bukit, kubah berkilau dan menara tinggi pasti menyapa mata kita dengan gagahnya.

Tapi ada satu pertanyaan menggelitik yang sering muncul saat azan berkumandang di luar bulan suci. Ke mana perginya kaum laki-laki dan anak muda kita, sehingga saf salat sering kali hanya terisi separuh saja.

Memang hebat kalau kita bisa mendirikan bangunan mewah senilai miliaran rupiah dengan gotong royong yang kuat. Namun jadi percuma kalau gedung itu hanya jadi monumen bisu yang kesepian saat waktu salat fardu tiba.

Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Dt Rajo Budiman menangkap kegelisahan ini saat Safari Ramadan di Sungai Lareh, Kota Padang, kemarin malam. Ia melihat ada ketimpangan yang nyata antara semangat membangun fisik dengan semangat meramaikan rumah ibadah itu sendiri.

Kenyataannya jumlah jemaah laki-laki di luar Ramadan sering kali sangat menyedihkan dan tidak sampai satu saf penuh. Lebih miris lagi kalau kita melihat partisipasi generasi muda yang makin menjauh dari lingkaran masjid di lingkungannya. Anak-anak muda sekarang mungkin lebih betah nongkrong di coffeeshop atau asyik dengan gawai masing-masing daripada duduk di lantai masjid. Ini adalah tantangan besar bagi para pengurus masjid agar tidak hanya sibuk memoles cat tembok tapi lupa merangkul jiwa jemaahnya.

Momentum Ramadan memang menjadi waktu paling pas untuk melakukan edukasi sosial dan keagamaan kepada masyarakat luas. Saat ini masjid-masjid penuh sesak oleh orang tua hingga anak sekolah yang menjalankan ibadah rutin tahunan. Kita harus memanfaatkan suasana ramai ini untuk menyampaikan pesan pembinaan yang efektif dan menyentuh hati mereka. Jangan sampai pesan-pesan kebaikan itu hanya lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas saat bulan puasa berakhir nanti.

Bantuan dana yang diserahkan pemerintah setiap kunjungan Safari Ramadan tentu sangat membantu kelanjutan pembangunan fisik dan fasilitas ibadah, sehingga masyarakat menjadi semakin nyaman. Tapi tumpukan semen dan keramik mahal bukan jaminan sebuah masjid akan menjadi berkah bagi lingkungannya. Kekuatan sesungguhnya dari sebuah rumah ibadah terletak pada seberapa banyak aktivitas positif yang menghidupkan suasana di dalamnya.

Kita berharap para tokoh masyarakat dan pengurus masjid mulai memutar otak untuk membuat program yang menarik bagi anak muda. Jangan buat aturan yang terlalu kaku sehingga generasi baru merasa asing dan enggan masuk ke rumah ibadah mereka sendiri.

Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban dan bukan sekadar tempat singgah sesaat ketika ingin salat saja. Bangunlah jiwanya sebelum kita terlalu sibuk mempercantik badannya agar tidak ada lagi saf yang bolong-bolong di masa depan. *

Related posts

Pacu Kudo Duku Banyak

Nuzulul Qur’an dan Rekonstruksi Peradaban : Menghidupkan Kembali Etika Wahyu di Era Disrupsi

Luka pada Wajah Pendidikan Kita