Safaruddin Dt. Bandaro Rajo
LIMAPULUH KOTA, KP – Kegaduhan yang ditimbulkan di media sosial terkait video seorang murid SD yang menendang pintu kelas dan mengeluarkan kata-kata kotor kepada gurunya menuai berbagai respon dari masyarakat.
Vidio berdurasi 34 detik yang direkam Senin (17/7) di SDN 07 Sariak Laweh, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota itu memperlihatkan seorang murid laki-laki mengucapkan kata-kata kotor kepada guru perempuan. Tidak hanya itu, murid tersebut juga telihat mengejar, memukul, dan menendang pintu sekolah sambil membentak sang guru.
Atas kejadian tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Limapuluh Kota melakukan mediasi pada Selasa (18/7) antara siswa, guru, orang tua, pihak sekolah, walinagari, pengawas, dan Disdikbud. Namun, dari hasil musyawarah tersebut tampak hanya sang guru, Fermini Wulansari yang disalahkan dan meminta maaf.
Hal ini menimbulkan pertanyaan dan rasa prihatin masyarakat, termasuk Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin Dt. Bandaro Rajo. Dalam kondisi kesehatan kurang fit, Bupati Safaruddin menyampaikan kekecewaan atas kasus yang hangat diperbincangkan di media sosial tersebut.
Menurutnya, kasus ini bukan sepenuhnya kesalahan sang guru, tetapi sang siswa turut bersalah. Selain itu, bupati meminta jangan ada pihak-pihak yang mengintervensi kasus itu agar dapat diselesaikan secepatnya.
Pada Kamis (20/7), Bupati Safaruddin memanggil Kadis Dikbud Afri Efendi, Ketua PGRI, Pengawas Sekolah, Camat Akabiluru, dan Kepala SDN 07 Sariak Laweh untuk menuntaskan kasus tersebut. Tidak hanya itu, Bupati Safaruddin juga meminta maaf kepada seluruh guru di Limapuluh Kota dan Indonesia serta berjanji akan menuntaskan permasalahan tersebut secepatnya.
Berikut guratan permintaan maaf yang disampaikan Bupati Safaruddin Dt. Bandaro Rajo kepada seluruh insan pengajar di Indonesia:
Maafkan Kami, Bu Guru!
Perasaan kita sama. Sama-sama terluka. Perasaan kita sama. Sama-sama kecewa. Saya terluka menyimak kabar viral itu. Saya lebih kecewa lagi, ketika mana—mengapa justru sang guru yang disuruh minta maaf?
Adat apa ini?
Maaf, saya kecewa sekali. Tadi siang, Kamis 20 Juli 2023, saya panggil staf saya. Saya panggil Kepala Dinas Pendidikan. Saya panggil kepala sekolah yang bersangkutan. Kekecewaan saya sungguh tak terkira. Saya jarang marah. Namun, bila sudah menyangkut harkat dan martabat guru, saya tak bisa main-main. Bagi saya ini adalah sesuatu yang sangat serius.
Berkali-kali saya menyampaikan ke ruang publik, hormati gurumu. Bila kita kehilangan rasa hormat kepada guru, maka ilmu akan lenyap. Pengetahuan tak akan lekat di ruang kepala. Hilang karomah guru, maka hilang adab dan budi pekerti. Islam memberikan penghargaan tertinggi pada guru kita. Guru tak boleh dilecehkan, apalagi ditekan-tekan!
Sulit saya menahan rasa kekecewaan ini ketika sang guru yang sangat mulia justru seperti ditekan untuk minta maaf. Pada pertemuan tadi, saya ingatkan semua jajaran: guru jangan sekali waktu diintervensi.
Pada kesempatan di tulisan ini, saya minta maaf kepada publik dan guru di tanah air, khususnya di Sumatera Barat dan Kabupaten Limapuluh Kota atas kefatalan peristiwa yang melukai hati kita bersama ketika mana justru sang guru yang meminta maaf.
Saya tak hendak sedang mencari siapa yang salah. Tapi, apa yang dinamakan dengan klarifikasi guru minta maaf atas peristiwa viral yang tersebar di berbagai platform media sosial itu adalah suatu kekeliruan yang sangat fatal. Kepada pihak-pihak yang teridentifikasi memberikan ‘tekanan’ saya akan memberikan sanksi yang tegas.
Saya telah meminta pertanggungjawaban kepala dinas Pendidikan dan kepala sekolah yang bersangkutan serta pihak-pihak yang ikut mendampingi sang guru sewaktu menyampaikan klarifikasi.
Bila hati guru dilukai, niscayailah saya akan berada di depan. Saya akan kobarkan spirit ‘save guru’. Karena kita sangat tahu bahwa guru adalah orang tua kita setelah orang tua kandung di rumah. Para orang tua, saya mohonkan, beri kepercayaan mendidik kepada ibu dan bapak guru di sekolah. Bila anak dimarahi di sekolah, jangan serta merta dengan emosional membela sang anak dan ‘menyerang’ sang guru.
Saya mohon pengertian dan rasa paham orang tua.
Sekali lagi, sebagai Bupati di Limapuluh Kota, dengan segala kerendahan hati, saya minta maaf atas peristiwa di luar jangkauan saya sehingga terjadi peristiwa ‘klarifikasi’ guru minta maaf di saat mana seharusnya dan idealnya, si anak di dampingi orang tua minta maaf kepada masyarakat, bukan gurunya!
Sebagaimana beredar kabar yang saya ikuti di media sosial menyangkut peristiwa ini, bahwa si anak yang ‘mampacaruikan’ gurunya itu anak pejabat dan memiliki bekingan, saya pastikan itu tidaklah benar. Kalaupun ada yang membeking-bekingi, bagi saya, bila sesuatu sudah menyangkut adab dan mengancam kenyamanan guru mengajar, maka sanksi tegas harus tegak.
Guru harus nyaman mengajar. Peristiwa itu wajar bikin masyarakat gusar dan geram. Seperti apa yang saya rasakan kini. Saya berharap, kejadian serupa tak terulang kembali. Ini adalah ‘peringatan’ keras. Terutama, kepada Kadis Dikbud dan kepala sekolah yang bersangkutan. Kepada guru yang bersangkutan, secara personal dan sebagai kepala daerah, saya minta maaf.
Pada pertemuan tadi, saya minta seluruh pihak terkait dan terlibat dengan ‘peristiwa’ ini untuk duduk satu ruang bersama ninik mamak dan wali nagari. Selesaikan sebaik-baiknya. Jangan sampai terjadi, guru ditekan kembali dan jangan ada upaya mencari-cari kesalahan personal dan jangan memojokkan guru yang bersangkutan.
Si anak serta semua yang terkait dan terlibat dalam video viral itu, minta maaf lah kepada sang guru di ruang publik.
Sekali waktu, jangan pernah melukai dan menyakiti hati guru-guru kita. Bila hati guru luka, lenyap segala ilmu. Hebat guru, hebat nagari dan bangsa. Untuk itu, hormati gurumu, Nak.
Maafkan kami. Maafkan saya, Bu Guru!
PENJELASAN GURU, FERMINI WULANSARI
Kemarahan Buapti Safaruddin itu lantaran guru yang ‘dipacaruikan’ murid, Fermini Wulansari justru meminta maaf atas kejadian itu. Dalam klarifikasi awal yang disampaikannya, Fermini meminta maaf karena telah merekam dan menyebarkan video aksi murid yang tidak terpuji tersebut.
Fermini menyebut, peristiwa itu hanya kesalahpahaman antara guru dan murid saja, dan dapat diselesaikan di internal sekolah serta secara kekeluargaan. Fermini menyebut, permintaan maaf yang ia sampaikan adalah dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun.
Pasca-klarifikasi yang memicu kehebohan itu, Fermini pun secara blak-blakan meluruskan beberapa hal yang dianggapnya tak sesuai fakta. Ia menegaskan, tak pernah memukul siswa tersebut menggunakan penggaris. Pasalnya, dirinya yang merupakan guru kelas 4 tidak pernah berinteraksi langsung dengan siswa tersebut yang merupakan siswa kelas 6.
“Tidak ada interaksi belajar-mengajar secara langsung setiap hari dengan siswa dimaksud,” tegas Fermini, dikutip dari radarsumbar.com.
Kemudian, soal dirinya yang dianggap sering terlambat datang ke sekolah. Menurut Fermini, hal itu bukan disengaja, namun ada beberapa faktor yang membuatnya tiba ke sekolah tidak tepat waktu.
“Saya merupakan CPNS guru tahun 2019 di Kabupaten Limapuluh Kota. Setiap akhir pekan, saya harus pulang ke Kota Padang untuk bertemu suami dan anak saya. Setiap Senin pukul 04.00 WIB, saya kembali ke Limapuluh Kota dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam untuk kembali mengabdikan diri sebagai pengajar. Beberapa kali saya sempat terlambat karena macet. Apalagi angkot menuju sekolah juga susah. Dengan kondisi itu, saya yang sebelumnya tidak pandai memakai motor, mulai belajar agar bisa ke sekolah dengan cepat. Hal itu juga sudah saya sampaikan untuk permintaan dispensasi pada kepala sekolah,” bebernya.
Ia menambahkan, upaya konfirmasi ini dilakukan untuk meluruskan persoalan ini agar dapat dilihat secara utuh, tidak hanya mendengarkan sebelah pihak.
“Tidak ada maksud saya untuk memperkeruh permasalahan ini. Saya sepakat jika permasalahan ini ditutup karena juga menjadi beban psikologis bagi saya,” katanya.
MURID ITU AKHIRNYA MINTA MAAF
Murid SDN 07 Sariak Laweh Akabiluru yang viral gegara ‘bacaruik’ kepada gurunya akhirnya meminta maaf. Permintaan maaf itu disampaikan secara terbuka kepada guru bersangkutan, Fermini Wulansari.
Dalam postingan media sosial (medsos) Instagram dengan nama pengguna @sudutpayakumbuh, pelajar itu terlihat mencium tangan Fermini Wulansari.
Pelajar dan guru tersebut terlihat didampingi pihak dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), orangtua murid, Kepala SDN 07 Sariak Laweh beserta sejumlah orang.
“Disdikbud Kabupaten Limapuluh Kota telah melakukan proses mediasi atau silaturahmi antara pihak guru dan murid pada Kamis (20/7),” tulis akun Instagram tersebut.
Postingan dari akun Instagram tersebut kemudian memantik perhatian warganet yang meminta si murid dan orangtuanya juga ikut meminta maaf secara terbuka ke medsos, seperti yang dilakukan oleh sang guru, Fermini Wulansari. Warganet juga mengkritik Kepala Disdikbud Kabupaten Limapuluh Kota, Afri Efendi yang dinilai lambat dalam menyelesaikan dan memutuskan persoalan tersebut. (dst/rdr)