PADANG PARIAMAN, KP – Pihak Otoritas Bandara Wilayah VI kembali menutup operasional Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Kabupaten Padang Pariaman, akibat dampak sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Marapi, Jumat (19/1).
Kepala Otoritas Bandara Wilayah VI Capt Megi H Helmiadi mengatakan, penutupan BIM dilakukan mulai pukul 14.15 WIB dengan pertimbangan aspek keselamatan penumpang pesawat terbang. Sebab, jika penerbangan tetap dilakukan, maka abu vulkanik berpotensi masuk ke dalam kabin pesawat.
Dampak buruk lainnya yaitu abu vulkanik dapat menyumbat sistem pemantau kecepatan udara yang merupakan bagian penting ketika pesawat terbang dan mendarat. Selanjutnya, dapat mengganggu navigasi dan sistem elektronik lainnya.
“Tidak hanya itu, sebaran abu vulkanik juga menyebabkan landasan menjadi licin, sehingga membahayakan aktivitas lepas landas maupun saat pesawat akan mendarat. Bahkan, abu vulkanik bisa merusak fungsi mesin (turbine compressor) pada pesawat, sehingga mengurangi efisiensi,” jelasnya dikutip dari antara.com.
Tambahan informasi, sejak Gunung Marapi 2.892 mdpl erupsi pada 3 Desember 2023, otoritas bandara telah menutup operasional BIM sebanyak tiga kali. Penutupan pertama terjadi pada Jumat 22 Desember 2023. Kemudian, pihak otoritas bandara kembali menutup aktivitas penerbangan dalam dan luar negeri pada 5 Januari 2024 yang juga terdampak oleh sebaran abu vulkanik. Terakhir, BIM terpaksa ditutup pada Jumat siang (19/1) akibat sebaran abu vulkanik.
Sebelumnya, Gunung Marapi kembali mengalami erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 meter yang terlihat jelas oleh warga di daerah Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi.
Petugas Pengamat Gunung Api (PGA) Teguh Purnomo mengungkapkan, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya. “Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 6.1 milimeter dan durasi sementara ini 1 menit 2 detik,” ujarnya.
Salah seorang warga Bukittinggi, Rizal Hatta (36 tahun) mengatakan letusan tidak menimbulkan suara dentuman namun abu vulkanik dari puncak Marapi terlihat dengan jelas. “Tidak juga ada getaran seperti gempa, tapi abu terlihat jelas karena biasanya tertutup awan,” tuturnya.
Letusan ini menjadi erupsi ke-132 sejak pertama kali Gunung Marapi erupsi di periode awal Desember 2023. Rinciannya, Gunung Marapi mengalami erupsi 24 kali di Januari 2024 hingga saat ini dan 108 kali di Desember 2023.
Gunung Marapi saat ini berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat di sekitar gunung tidak memasuki dan tidak melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 4,5 kilometer dari pusat erupsi (Kawah Verbeek). (ant)