Transportasi Udara Penyumbang Inflasi Tertinggi

PADANG PANJANG, KP – Transportasi udara menjadi penyumbang inflasi tertinggi pada bulan lalu yang disebabkan oleh harga avtur (bahan bakar penerbangan) yang tinggi.

“Hal ini sudah kami laporkan kepada Presiden dan akan dirapatkan khusus di tingkat pusat,” kata Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian saat memimpin Rapat Pengendalian Inflasi yang diikuti Pemerintah Kota Padang Panjang via Zoom Meeting di Aula VIP Balai Kota, Senin (15/5).

Dari Padang Panjang, rapat diikuti oleh Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Sonny Budaya Putra, bersama Forkopimda dan instansi terkait.

Mendagri Tito juga memaparkan kondisi inflasi di Indonesia pada bulan lalu yang berada di angka 4,33 persen. Terutama tarif angkutan udara menjadi penyumbang inflasi paling signifikan.”Ini memerlukan penanganan Pemerintah Pusat terutama Kementerian Perhubungan,” katanya.

Menurutnya, tarif transportasi seperti avtur dan kargo seharusnya bisa diatur oleh pemerintah, bukan berdasarkan mekanisme pasar. Ia menyebut harga avtur di Indonesia bahkan lebih tinggi daripada di Singapura.

Hal ini disebabkan distribusi avtur yang masih memerlukan transportasi untuk memindahkan avtur dari satu daerah ke daerah lainnya.

Sementara itu, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa ada 10 daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tertinggi. Khusus di Pulau Sumatera, termasuk di dalamnya Kabupaten Sijunjung.

Komoditas utama yang mempengaruhi kenaikan IPH antara lain bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Sebaliknya, komoditas yang mempengaruhi penurunan IPH adalah cabai merah, cabai rawit, dan beras.

Sementara itu, Kabag Perekonomian dan Sumberdaya Alam Setdako, Putra Dewangga, menyampaikan bahwa pada bulan April lalu, Sumatera Barat termasuk dalam lima daerah dengan penyumbang inflasi tertinggi. Namun, tidak ada kabupaten dan kota di Sumbar yang masuk ke dalam 10 besar inflasi tertinggi pada bulan tersebut.

Di Kota Padang Panjang, berdasarkan informasi dari Kepala BPS Padang Panjang, Arius Jonaidi, IPH untuk minggu kedua Mei ini mengalami penurunan sebesar 1.600. Komoditas utama yang berkontribusi terhadap penurunan ini adalah cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Dikatakan Putra, hasil pemantauan harga pada minggu kedua Mei, ada 20 komoditas yang mengalami fluktuasi harga. Sebanyak 13 komoditas mengalami kenaikan harga dan tujuh lainnya mengalami penurunan harga.

“Sebagian besar berfluktuasi ringan dan tidak mempengaruhi stabilitas transaksi di Pasar Pusat Padang Panjang,” ujarnya. (sup)

Related posts

Kebersamaan Buka Puasa Bersama GAIA Dental Clinic Bukittinggi, Wujud Apresiasi untuk Seluruh Tim

BKKBN Sumbar Perkuat Komitmen Lintas Sektor untuk Tingkatkan Kemandirian Kampung Keluarga Berkualitas

Harga Emas di Padang Tembus Rp5 Juta per Emas, Tertinggi Sepanjang Tahun