KESETARAAN dan keadilan adalah salah satu permasalahan di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Masalah ini sulit dihilangkan seakan sudah melekat di masyarakat, padahal kita sesama manusia memiliki hak dan kesetaraan yang sama di hadapan sang pencipta, akan tetapi ada kalanya kita mendapat perlakuan yang berbeda karena berbagai stigma yang tumbuh di Masyarakat. Fenomena ini disebut dengan standar ganda.
Standar ganda atau Double Standard adalah keadaan Dimana kita menilai sesuatu atau seseorang secara berbeda pada kasus yang sama. Contoh kecilnya adalah saat perempuan menangis dianggap wajar akan tetapi akan dianggap lemah dan cengeng bila laki-laki yang menangis. Lalu saat laki-laki menjadi pemimpin dianggap wajar dan biasa tetapi jika perempuan yang memimpin akan dianggap lemah dan tidak mampu.
Baik laki-laki maupun perempuan memiliki standar porsi yang berbeda dalam melakukan aktivitas setiap harinya. Contoh tersebut adalah standar ganda berbasis gender yang dianggap “wajar” di masyarakat.
Standar ganda biasanya ada karena tradisi atau kebiasaan yang melekat di masyarakat hingga menghasilkan stigma-stigma yang buruk. Seperti contoh di atas, laki-laki digambarkan sebagai orang yang kuat dan berjiwa pemimpin, sedangkan perempuan dianggap sebagai orang yang lemah lembut.
Contoh lainya yaitu adanya perumpamaan yang menyatakan bahwa laki-laki adalah kunci dan perempuan adalah gembok. Kunci yang bisa membuka semua gembok adalah kunci yang mahal dan hebat, sedangkan gembok yang bisa dibuka semua kunci adalah gembok yang murah.
Artinya, laki-laki yang berpengalaman menaklukkan banyak wanita adalah lelaki yang hebat, sedangkan perempuan yang mudah di taklukkan adalah perempuan yang murahan.
Standar ganda tidak hanya terjadi dalam konteks gender tetapi dapat juga terjadi dalam aspek politik, hukum, ekonomi, sosial, dan lainya.
Seperti contoh pengunjung atau pembeli yang berpakaian mewah akan mendapatkan perlakuan baik, berbeda dengan pengunjung yang memakai pakaian sederhana pasti akan mendapat perlakuan buruk dan tidak maksimal.
Adanya rasa untuk membenarkan perlakuan diri sendiri adalah salah satu penyebab orang berstandar ganda, anggapan seperti orang lain tidak boleh melakukanya tetapi saya boleh, contohnya seperti dalam kelas, siswa ataupun mahasiswa tidak boleh datang terlambat tetapi guru atau dosen boleh.
Seperti yang sudah kita ketahui, standar ganda bukanlah kebiasaan yang baik, jadi ada baiknya kita sebagai generasi muda mencegah atau menghindarinya agar tidak meluas dan terus berkembang. Kita harus adil dalam memperlakukan diri sendiri dan orang lain. Jika rasanya yang dilakukan orang lain itu tidak benar maka jangan lakukan hal yang sama ke orang lain. *