KOMUNIKASI merupakan aspek yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seorang individu termasuk dalam konteks keluarga. Dewirahmadanirwati (2019) menyebutkan bahwa komunikasi yang pertama kali terbentuk dalam kehidupan individu adalah komunikasi keluarga.
Komunikasi dalam interaksi keluarga merupakan pondasi utama dalam membentuk karakter individu dimana lingkungan keluarga mempengaruhi pengetahuan individu yang bermanfaat dalam kesehariannya (Sukarno, 2021). Menurut Saskara dan Ulio (2020) komunikasi keluarga adalah bentuk interaksi keluarga yang bermanfaat sebagai media penghubung antara anggota keluarga dan ruang bagi keluarga untuk mengembangkan budaya mereka.
Djayadin dan Munastiwi (2020) menyebutkan bahwa pola komunikasi orang tua yang baik akan membangun rasa aman dan kepercayaan pada diri anak yang akan berdampak pada psychological well-being pada anak. Oleh karena itu, penulis yakin bahwa pola komunikasi keluarga yang baik penting untuk psychological well-being anak.
Keluarga merupakan sebuah kelompok sosial yang memiliki ciri-ciri tinggal bersama, memiliki usaha untuk bekerjasama dalam hal ekonomi, serta terjadinya proses reproduksi (Murdock, 1965). Pada umumnya individu yang memutuskan untuk berkeluarga berharap dapat menciptakan suatu keluarga yang harmonis. Sebuah keluarga dapat disebut sebagai keluarga harmonis ketika setiap anggota keluarga dapat menerima perbedaan antara anggota keluarga dengan perasaan yang damai (Muchtar dkk., 2023). Yulianti dkk (2023) menyebutkan bahwa hal tersebut dapat diketahui berdasarkan ciri-cirinya yakni berkurangnya ketegangan dalam keluarga, tidak terdapat kekecewaan dalam keluarga serta puas pada keadaan diri sendiri baik secara fisik mental, emosi, dan sosial dimana hal tersebut dapat terjadi ketika anggota keluarga saling menghargai, memiliki waktu luang bersama, dan pola komunikasi yang baik.
Menurut Muchtar dkk (2023), komunikasi dalam keluarga bagaikan benang yang menghubungkan setiap anggota keluarga untuk saling memahami satu sama lain yang akan membantu keluarga dalam menyelesaikan konflik yang terjadi dalam keluarga karena adanya rasa saling percaya antar anggota keluarga. Oleh karena itu penting bagi dalam terciptanya suatu keluarga yang harmonis untuk dapat memiliki komunikasi yang baik.
Susiana (2023) menyebutkan bahwa komunikasi yang baik dan saling menghargai antara anggota keluarga akan membangun ikatan yang kuat antara masing-masing anggota keluarga seperti orangtua yang memberikan nasehat kepada anaknya dengan baik dan anak yang mendengarkan serta menerima nasihat dengan santun.
Selain itu, Dewirahmadanirwati (2019) menyebutkan bahwa setiap anggota keluarga memiliki pengharapan atas terjadinya komunikasi keluarga yang baik dalam lingkungan keluarga. Hal ini dikarenakan setiap individu memiliki keinginan untuk dapat berada dalam lingkup yang positif.
Muchtar dkk (2023) yang menyebutkan beberapa cara agar terciptanya komunikasi keluarga yang baik dan mencapai keluarga yang harmonis yakni kejujuran, berbicara dengan kasih sayang, toleransi, mendengarkan dengan baik, menjauhi kegiatan menggunjing, memberikan saran yang bermanfaat, menjaga rahasia anggota keluarga, menjauhi berbohong, menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin, saling memotivasi satu dengan yang lain. Namun, lemahnya komunikasi antara anggota keluarga dapat menyebabkan berbagai permasalahan keluarga terjadi salah satu menurut penelitian Jiménez dkk (2019) yang menyebutkan bahwa komunikasi keluarga yang bermasalah merupakan faktor penyebab terjadinya perilaku kekerasan verbal karena stres yang dirasakan individu. Oleh karena itu, agar terciptanya komunikasi yang baik diperlukan kehadiran pola komunikasi yang baik untuk dapat menunjang hal tersebut.
Pola komunikasi keluarga adalah interaksi yang terjadi dalam sebuah keluarga yang memiliki keterlibatan orang tua sebagai komunikator dan anak sebagai komunikan (Rahmawati & Gazali, 2018). Yulianti dkk (2023) menyebutkan bahwa pola komunikasi keluarga dapat dilihat dari orang tua, anak, suami, istri, saudara, dsb dimana setiap anggota keluarga memiliki sikap, karakter, pendapat, pikiran, dan perilaku yang berbeda-beda dimana pola komunikasi keluarga yang baik akan menciptakan suasana dan kondisi yang baik dan cocok bagi anggota keluarga serta menghasilkan kedekatan, keterbukaan, dan kepuasaan pada anggota keluarga sendiri.
Melalui hal pola komunikasi keluarga yang baik akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan individu dimana individu akan terpenuhi rasa ingin didengar, kebutuhan akan kasih sayang, dan sebagainya. Namun, Djamarah (2004) menyebutkan terdapat lima hal yang akan mempengaruhi efektifitas dalam pelaksanaan pola komunikasi keluarga yang baik yaitu rendahnya kepercayaan diri orang tua dan anak, orang tua yang hanya fokus pada dirinya sendiri, kurangnya empati, kemarahan yang terpendam serta ketidakmampuan anak untuk menyampaikan kebutuhan, keinginan, dan pendapatnya. Oleh karena itu, penting memperhatikan faktor-faktor tersebut agar dapat tercipta pola komunikasi keluarga yang baik.
Menurut Devito (dalam Yulianti dkk, 2023) dalam penerapannya terdapat 4 pola komunikasi dalam keluarga yaitu equality pattern, balanced split pattern, unbalanced split pattern, monopoly pattern. Pola komunikasi persamaan atau equality pattern merupakan pola komunikasi yang menjelaskan bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran yang sama dalam komunikasi. Sedangkan, dalam pola komunikasi seimbang atau balanced split pattern menyebutkan bahwa dalam pola komunikasi ini setiap anggota keluarga memiliki kekuasaan pada keahliannya.
Berikutnya, dalam pola komunikasi tidak seimbang atau unbalanced split pattern akan terdapat satu orang atau lebih yang lebih mendominasi dimana orang tersebut merupakan expert dalam mengontrol komunikasi keluarga yang terjadi. Kemudian, pola komunikasi monopoli dijelaskan sebagai pola komunikasi yang memiliki seorang sebagai pemimpin karena adanya orang yang lebih dominan untuk memberikan nasehat daripada mendengarkan saran dari orang lain. Penggunaan pola komunikasi ini perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi sehingga dapat tercipta pola komunikasi keluarga yang baik.
Pola komunikasi yang baik akan berpengaruh pada keluarga terutama pada anak yang menjadi penerus suatu keluarga. Menurut Tanjung dan Hartati (2020), anak membutuhkan pola komunikasi yang positif untuk dapat berkembang dengan baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Dewirahmadanirwati (2019) yang menjelaskan bahwa terdapat tiga tahapan anak dimana pola komunikasi akan mempengaruhinya yaitu prasekolah, saat sekolah, dan remaja.
Pada masa prasekolah, pola komunikasi keluarga yang baik sangat penting bagi anak untuk kemampuan berbahasanya dimana kemampuan ini dipengaruhi oleh interaksi dan komunikasi dengan keluarganya. Kemudian, saat anak berada pada usia sekolah pola komunikasi keluarga yang baik sangat penting untuk anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Selanjutnya, saat remaja dimana pola komunikasi yang dipelajari anak remaja dari lingkungan keluarganya akan membentuk pemahaman komunikasi anak baik secara fisiologis maupun psikologis seperti contohnya anak yang selalu dibanding-bandingkan dengan saudaranya selama masa pertumbuhan akan memiliki rasa persaingan dengan saudaranya yang akan mempengaruhi hubungan keduanya.
Yulianti dkk (2023) menyebutkan bahwa terdapat 4 hal yang perlu diperhatikan agar menghasilkan pola komunikasi yang baik dan sesuai situasi serta kondisi yaitu respect, jelas, empati, dan rendah hati. Dalam komunikasi yang terjadi dalam anggota keluarga diperlukan adanya rasa saling menghargai dalam diri seluruh anggota keluarga yang mana ketika terjadi komunikasi antara orang tua dan anak maka akan secara tidak langsung mengajarkan anak untuk dapat menghargai lawan bicara.
Kemudian, penting dalam suatu komunikasi untuk pembicara dapat menyampaikan informasi dengan jelas dan dapat dipahami makna bagi pendengarnya sehingga ketika terjadi komunikasi dalam keluarga akan menghasilkan keterbukaan jika informasi tersebut jelas dan pendengar dapat memahami dengan baik situasi dan kondisi pembicara.
Selanjutnya, ketika pendengar telah memahami informasi yang diberikan oleh pembicara maka akan tercipta empati terutama dalam komunikasi keluarga sehingga mengurangi tekanan atau ketegangan yang dirasakan anggota keluarga. Berikutnya, dalam komunikasi keluarga penting untuk setiap anggota keluarga dapat saling menjaga perasaan pembicara sehingga tidak menyakiti perasaan satu dengan yang lain. Melalui hal ini, maka seorang anak yang tumbuh dengan pola komunikasi tersebut akan mencapai psychological well-being dimana dia dapat memiliki sifat positif bagi dirinya dan orang lain, kemampuan untuk memutuskan suatu hal sendiri, dapat mengatur perilakunya sendiri, mengembangkan diri, dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya sendiri.
Soemartono dalam (Dewirahmadanirwati, 2019) menyebutkan bahwa pola komunikasi yang buruk dalam suatu keluarga akan menciptakan pertentangan dan berbagai konflik internal maupun eksternal dalam keluarga dimana setidaknya terdapat 6 efek dari pola komunikasi yang buruk dalam keluarga pada anak yakni kerap terjadi pertengkaran dalam keluarga yang mempengaruhi kondisi psikologis anak, buruknya hubungan antara anak dan orang tua, anak berkemungkinan besar untuk melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya, anak akan kehilangan rasa hormatnya kepada orang tua dimana anak akan lebih cenderung merasa takut pada orang tua daripada merasa hormat, dan hal-hal tersebut kemudian menyebabkan anak mengalami broken home.
Romera dkk (2021) menyebutkan bahwa kepercayaan dan komunikasi keluarga dibutuhkan untuk dapat mengurangi perilaku anak yang mengalami problematic internet use karena melalui hal tersebut mereka dapat merasa dimengerti dan didukung oleh keluarganya sehingga akan mendorong adanya keterbukaan pada anak mengenai perilakunya tersebut. Selain itu, Madonna (2021) menyebutkan bahwa pola komunikasi keluarga yang baik merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan kekerasan pada anak dimana melalui komunikasi keluarga yang baik antara anak dan orang tua akan meminimalisir permasalahan terkait kesehatan mental pada anak. Melalui upaya tersebut akan mendorong anak untuk tidak memiliki psychological well-being.
Oleh karena itu pola komunikasi yang baik antara anggota keluarga mencipta hubungan keluarga yang harmonis dimana setiap anggota keluarga dapat mendengarkan, memahami, dan menghargai pendapat dan ide dari setiap anggota keluarga sehingga mendorong terjadinya peningkatan hubungan emosional antara anggota keluarga. Dengan adanya peningkatan hubungan emosional tersebut akan mengurangi konflik dan ketegangan antara anggota keluarga serta berdampak positif pada kesejahteraan psikologis anggota keluarga terutama anak sebagai generasi berikutnya.
Dewirahmadanirwati (2019) menyebutkan bahwa komunikasi yang terjadi dalam lingkungan keluarga menjadi faktor utama dalam pembentukan karakter dan watak dari anak dimana ketika karakter tersebut dibentuk oleh keluarga yang harmonis dan memiliki pola komunikasi yang baik maka baik pula karakter dan watak yang terbentuk. Hal tersebut akan mempengaruhi anak dimana ketika sebuah keluarga yang memiliki pola komunikasi baik akn berdampak pada keadaan psikologis anak yang kemudian memiliki efek pada psychological well-being anak. Menurut Rezki (dalam Djayadin & Munastiwi, 2020), terdapat beberapa hal yang mempengaruhi kesehatan mental anak yaitu kesehatan fisik, interaksi dengan keluarga, interaksi dengan teman, dan persepsinya terhadap lingkungan.
Selain itu, terdapat beberapa tanda yang memperlihatkan bahwa anak mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya yaitu menarik diri, cemas, tidak ceria, nafsu makan menurun, dan sebagainya. Melalui komunikasi yang baik antara orang tua dan anak akan membantu anak dalam menghadapi permasalahan yang dimilikinya (Candra & Sakban 2017). Hal tersebut juga memiliki keselarasan dengan penelitian KavehFarsani dkk (2020) yang menyebutkan bahwa komunikasi dan fungsi keluarga memiliki pengaruh langsung terhadap psychological well-being pada anak remaja yang mengalami obesitas dalam keluarga.
Ryff (1989) menyebutkan kesejahteraan psikologis suatu kondisi dimana individu dapat memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain, memiliki kemampuan untuk memutuskan suatu hal sendiri, dapat mengatur perilakunya sendiri, mengembangkan diri, dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Terdapat enam aspek dari kesejahteraan psikologis yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pengembangan diri (Ryff, 1995).
Terdapat keterkaitan yang kuat antara kesejahteraan psikologis dengan pola komunikasi keluarga seperti dalam penelitian Bireda dan Pillay (2018) dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi dengan kedua orang tua dan kesejahteraan anak. Kemudian, dalam penelitian Essler dkk (2021) diketahui bahwa pola hubungan anak dan orang tua yang baik merupakan cara yang sesuai dan menjanjikan untuk mengatasi stres dan penyesuaian emosional anak terutama pada kondisi COVID-19. Pola hubungan anak dan orang tua yang baik dapat tercapai melalui pola komunikasi yang baik dari orang tua dan anak dimana kedua belah pihak saling menyampaikan pendapat, keinginan, saling menghargai, mendengarkan, dan memberikan kasih sayang.
Dalam penelitian Felix dkk (2020) dapat diketahui bahwa pola komunikasi yang baik dalam keluarga pasca bencana akan sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan mental dari anggota keluarga dimana setelah kondisi pasca bencana tetap dapat menyebabkan terjadinya depresi pada individu sehingga melalui komunikasi keluarga akan membantu individu dalam menghadapi permasalahan tersebut.
Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa keluarga sebagai sebuah kelompok sosial kecil memiliki berbagai peran dalam kehidupan individu terutama anak. Peran keluarga tersebut dapat tercapai jika dapat dikomunikasikan dengan baik sehingga diperlukan adanya komunikasi yang baik dalam keluarga. Komunikasi yang terjadi dalam keluarga menjadi salah satu faktor terpenting dalam membentuk karakter dan watak dari anak yang menjadi generasi penerus dari keluarga.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pola komunikasi yang baik antara keluarga dengan anak sebagai salah satu anggotanya agar dapat mencapai psychological well-being. kesejahteraan psikologis atau psychological well-being merupakan suatu kondisi individu yang dapat memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain, memiliki kemampuan untuk memutuskan suatu hal sendiri, dapat mengatur perilakunya sendiri, mengembangkan diri, dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Jika pola komunikasi dari suatu keluarga buruk maka akan menimbulkan berbagai permasalahan pada yang mempengaruhi keberfungsian dan kesehatan mental anak sehingga dibutuhkan pola komunikasi keluarga yang baik agar anak dapat memiliki psychological well-being.
DAFTAR PUSTAKA
Bireda, A. D., & Pillay, J. (2018). Perceived parent–child communication and well-being among Ethiopian adolescents. International Journal of Adolescence and Youth, 23(1), 109-117.
Candra, C., & Sakban, A. (2017). Hubungan Antara Pola Komunikasi Orang Tua Dengan Motivasi Belajar Siswa Di Sman 1 Labuapi Lombok Barat. JUPE: Jurnal Pendidikan Mandala, 2(2), 82-86.
Dewirahmadanirwati, D. (2019). Peranan Komunikasi Interpersonal Dilingkungan Keluarga Dalam Membentuk Pola Komunikasi Anak Dengan Lingkungan Sosialnya. Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholastic, 3(3), 31-37.
Djamarah, S. B. (2004). Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga; Sebuah Perspektif Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipta.
Djayadin, C., & Munastiwi, E. (2020). Pola komunikasi keluarga terhadap kesehatan mental anak di tengah pandemi Covid-19. Raudhatul Athfal: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 4(2), 160-180.
Essler, S., Christner, N., & Paulus, M. (2021). Longitudinal relations between parental strain, parent–child relationship quality, and child well-being during the unfolding COVID-19 pandemic. Child Psychiatry & Human Development, 52(6), 995-1011.
Felix, E. D., Afifi, T. D., Horan, S. M., Meskunas, H., & Garber, A. (2020). Why family communication matters: The role of co-rumination and topic avoidance in understanding post-disaster mental health. Journal of abnormal child psychology, 48, 1511-1524.
Jiménez, T. I., Estévez, E., Velilla, C. M., Martín-Albo, J., & Martínez, M. L. (2019). Family communication and verbal child-to-parent violence among adolescents: the mediating role of perceived stress. International journal of environmental research and public health, 16(22), 4538.
KavehFarsani, Z., Kelishadi, R., & Beshlideh, K. (2020). Study of the effect of family communication and function, and satisfaction with body image, on psychological well-being of obese girls: the mediating role of self-esteem and depression. Child and adolescent psychiatry and mental health, 14, 1-10.
Madonna, M. (2021). Penyuluhan Komunikasi Keluarga Sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak. URGENSI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin, 1(2), 24-31.
Muchtar, I., Erfandi, A. M., Abidin, Z., Aliman, A., Ramli, R., & Bawa, D. L. (2023). Analisis Prinsip Komunikasi Islami dalam Membangun Keluarga Harmonis Menurut Alqur’an. ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(10), 4705-4720.
Murdock, G. P. (1965). Social Structure. Tenth Printing. New York: The McMillan Company.
Rahmawati, R., & Gazali, M. (2018). Pola komunikasi dalam keluarga. Al-Munzir, 11(2), 327-245.
Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of personality and social psychology, 57(6), 1069.
Ryff, C. D. (1995). Psychological well-being in adult life. Current directions in psychological science, 4(4), 99-104.
Romera, E. M., Camacho, A., Ortega-Ruiz, R., & Falla, D. (2021). Cybergossip, cyberaggression, problematic Internet use and family communication. Comunicar, 29(67).
Saskara, I. P. A., & Ulio, S. M. (2020). Peran komunikasi keluarga dalam mengatasi “toxic parents” bagi kesehatan mental anak. Pratama Widya: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 125-134.
Sukarno, B. (2021). Pentingnya Komunikasi Keluarga Dalam Perkembangan Anak. Jurnal Ekonomi, Sosial & Humaniora, 3(01), 1-9.
Susiana. (2023). Pola Komunikasi Interpersonal Dalam Membentuk Keluarga Sakinah.
Jurnal AZ-ZAWAJIR.
Tanjung, P. S., & Hartati, S. (2020). Pengaruh Pola Komunikasi Verbal Orang Tua Terhadap Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Tambusai, 4(3), 3380-3386
Tiwa, T. M., Kumaat, T. D., Narosaputra D. A. N., & Sengkey, S. B. (2023). Parent-Child Communication Patterns in Decision Making (Qualitative Study on ChildrenMarried in Gamnyial Village, East Sahu District, West Halmahera Regency). Manado: Departement of Psychology Universitas Negeri Manado. https://doi.org/10.2991/978-2-494069-35-0_219
Yulianti, Y., Mona, M., & Cantika, N. (2023). Pola Komunikasi Keluarga Dalam Menjaga Keharmonisan. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(2), 2644-2648.
Zarnaghash, M., Zarnaghash, M., & Zarnaghash, N. (2013). The relationship between family communication patterns and mental health. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 84, 405-410.