Bupati-Wabup Limapuluh Kota Diminta Tancap Gas di Sektor Pertanian

Bupati dan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Safni-Ahlul Badrito Resha.

LIMAPULUH KOTA, KP — Memasuki 60 hari kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Safni-Ahlul Badrito Resha, banyak pihak mendesak agar pasangan yang dikenal dengan sebutan ‘Sakato’ ini segera tancap gas, terutama dalam pembangunan sektor pertanian yang menjadi program unggulan saat kampanye lalu.

Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanpanghorbun) Limapuluh Kota, daerah ini memiliki 45 ribu hektare lahan pertanian sawah dan non-sawah yang tersebar di 79 nagari di 13 kecamatan. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, sehingga penguatan sektor pertanian dinilai sebagai kebutuhan mendasar.

Tokoh masyarakat Luak Limopuluah, Budi Febriandi menyatakan, pertanian adalah sektor prioritas yang harus dibangun secara utuh, mulai dari pengembangan komoditas strategis hingga hilirisasi produk.

“Pertanian perlu fokus dari hulu ke hilir. Pariwisata juga penting, termasuk pengembangan wisata alam, agrowisata, serta sektor pendidikan dan kesehatan. Pembangunan Ibu Kota Kabupaten (IKK) juga harus diperhatikan,” kata Budi.

Ia menilai, potensi pertanian Limapuluh Kota sejalan dengan program Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto, menuju Indonesia Emas 2045. Daerah ini dinilai mampu menghasilkan produk pertanian sehat dan ramah lingkungan dengan kualitas unggul.

“Langkah strategis yang diharapkan masyarakat adalah penguatan produksi yang ramah lingkungan. Pertanian harus berpikir dari awal soal bahan alami, lalu ke hilirisasinya, termasuk stabilisasi pasar dan harga,” ujar Budi.

Ia juga menyoroti perlunya penerapan pertanian berkelanjutan yang menekankan produksi ramah lingkungan, penggunaan sumber daya alam secara bijak, serta peningkatan kesejahteraan petani. Menurutnya, hal ini bisa dimulai dari penerapan pola pertanian organik, konservasi, agroforestri, hingga sistem irigasi yang efisien.

“Namun kenyataannya, ketergantungan terhadap pupuk kimia masih tinggi. Pertanian organik belum banyak tersentuh,” sebutnya.

Budi juga menyinggung lemahnya perlindungan petani dari fluktuasi harga komoditas seperti gambir, pinang, dan karet. Ia menilai fasilitas seperti Resi Gudang yang sudah dibangun belum berjalan optimal.

“Jagung seharusnya bisa menjadi komoditas andalan. Tapi hingga kini belum dikelola maksimal, padahal Limapuluh Kota dikenal sebagai daerah sentra unggas,” katanya.

Sorotan lain datang dari tokoh masyarakat Masril yang menyinggung kondisi Pasar Ternak di Padang Siontah yang kini terbengkalai dan tidak dimanfaatkan.

“Jika dikelola dengan baik, pasar ternak itu punya banyak potensi,” ujar Masril.

Mantan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, menambahkan pentingnya penataan regulasi sebagai perangkat lunak yang mendukung pengembangan sektor-sektor unggulan daerah.

“Kepala daerah perlu melakukan penataan organisasi, regulasi, dan anggaran. Komunikasi publik dan politik juga harus diperbaiki. Terpenting, mereka harus terbuka dan mau menerima masukan dari tokoh-tokoh Luak Limopuluah,” tegas Ferizal. (dst)

Related posts

Pemko Padang Gandeng Bank Mandiri Perkuat Digitalisasi Keuangan Daerah

Padang Ditunjuk Tuan Rumah Seminar Kebencanaan APEKSI

Dasawisma Aloe Vera 7 Wakili Padang di Lomba Tingkat Sumbar