Investasi Capai Rp4 Triliun, Progres Geothermal Bonjol Masuk Tahap Awal Pengeboran

Bupati Pasaman Welly Suhery bersama jajaran Pemkab Pasaman serta pihak perusahaan PT MGSu, saat melakukan peninjauan lokasi Geothermal di Kecamatan Bonjol beberapa waktu lalu.

PASAMAN, KP – Pembangunan pembangkit listrik energi panas bumi (geothermal) di Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, memasuki tahap persiapan pengeboran pertama. Minggu (22/6), PT Medco Geothermal Sumatera (MGSu) mulai menempatkan titik survei eksplorasi atau ‘Parklane’ sebagai langkah awal pencarian potensi sumber daya panas bumi di lokasi tersebut.

Bupati Pasaman Welly Suhery bersama jajaran pemerintah daerah turun langsung ke lokasi untuk memastikan seluruh proses berjalan lancar dan tidak merugikan masyarakat sekitar. Ia juga meminta semua permasalahan yang masih terjadi diselesaikan secara rinci, kasus per kasus, tanpa generalisasi.

Menurutnya, investasi besar seperti geothermal sangat diperlukan oleh daerah, mengingat aliran Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat semakin ketat akibat efisiensi APBN. Oleh karena itu, Pemkab Pasaman fokus menarik investasi guna menjaga keberlanjutan pembangunan daerah.

“Investor untung, masyarakat juga harus untung. Kita butuh sinergi. Investor wajib ikuti aturan, dan masyarakat punya hak untuk dilibatkan, terutama dalam penyediaan tenaga kerja lokal,” ujarnya.

Sementara, Site Manager PT MGSu, Sigit Widiatmoko menjelaskan, rencana proyek ini sudah dimulai sejak 2019. Namun pandemi memaksa aktivitas tertunda hingga November 2023.

“Kami mulai pengambilan data lapangan pada 2023, lalu sosialisasi pembebasan lahan berlangsung Maret 2024. Konstruksi akses jalan menuju lokasi pengeboran dimulai Desember tahun lalu,” papar Sigit.

Saat ini, tim telah menetapkan dua lokasi pengeboran utama, yaitu Bonjol 1 di Kampung Tampang dan Bonjol 3 di Sungai Limau. Dalam tahap awal, kedalaman pengeboran mencapai 1 kilometer.

Energi panas bumi yang diperkirakan mencapai suhu maksimal 150 derajat Celsius atau kategori ‘medium low’ akan digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik dengan kapasitas 35 KV (35.000 Volt).

Meski demikian, kata Sigit, proses pengembangan proyek ini membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun, sehingga produksi listrik diperkirakan baru bisa dimulai pada 2032 mendatang.

Selain pengeboran, pembangunan infrastruktur pendukung, seperti tapak sumur dan kolam pengolahan limbah hasil pengeboran juga telah rampung dilaksanakan sejak Maret 2025.

Kepala DPMPTSP Kabupaten Pasaman, Yusnimar menyebut, nilai investasi total proyek geothermal Bonjol mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp4 triliun. Hingga tahap PSPE saat ini, proyek ini sudah menghabiskan biaya sekitar Rp150 miliar.

“Ini adalah salah satu proyek strategis nasional. Selain memberi kontribusi besar bagi ketahanan energi nasional, proyek ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal,” ujarnya.

Pihaknya berharap proses penyelesaian administrasi dan teknis dapat terus berjalan lancar, serta dampak positif investasi bisa dirasakan masyarakat dalam bentuk lapangan kerja, peningkatan infrastruktur, dan penumbuhan usaha pendukung di sekitar wilayah operasional. (nst)

Related posts

Pemko Padang Panjang Matangkan Regulasi KLA

Tanah Datar Raih Opini WTP ke-15, Tertinggi dalam Tindak Lanjut Rekomendasi BPK

Pertahankan WTP, Padang Pariaman Komitmen Jaga Transparansi Keuangan