JAKARTA, KP — Harga emas mencatatkan rekor kenaikan fantastis pada perdagangan Kamis (29/1). Dalam satu hari, harga emas meroket hingga menembus angka Rp3.168.000 per gram. Lonjakan ini mempertegas tren positif logam mulia yang telah naik lebih dari 27 persen sepanjang awal tahun 2026 ini. Sejalan dengan harga beli, harga jual kembali (buyback) emas Antam juga melonjak ke angka Rp2.989.000 per gram.
Pantauan di kawasan Pasar Raya Padang, trerlihat adanya penyesuaian harga di sejumlah toko emas. Salah satunya di Toko Emas Murni Pasar Raya. Seorang karyawan toko, Alifa, membenarkan bahwa harga logam mulia saat ini kembali mengalami kenaikan signifikan. Ia menyebutkan, harga emas kini telah menembus angka Rp3 juta per gram.
“Betul, harga emas sekarang naik lagi. Untuk satu gram saat ini berada di kisaran Rp 3.020.000,” kata Alifa, Kamis (29/1) dikutip dari tribunpadang.com.
Menurutnya, lonjakan tersebut cukup terasa bagi masyarakat Padang yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang. Angka di atas Rp3 juta per gram dinilai sebagai titik psikologis baru bagi pergerakan harga emas di daerah ini.
Tak hanya satuan kecil, harga emas dengan berat lebih besar juga ikut mengalami penyesuaian. Alifa menjelaskan, untuk emas dengan berat 2,5 gram, harga yang ditawarkan kini mencapai jutaan rupiah. “Kalau ukuran 2,5 gram, harganya sekarang sekitar Rp7.550.000,” jelasnya.
Kenaikan harga emas tidak hanya terjadi di toko-toko emas tradisional, tetapi juga tercermin pada harga yang dikeluarkan lembaga resmi seperti PT Pegadaian (Persero). Berdasarkan informasi dari laman resmi Pegadaian, harga emas berbagai merek terus bergerak naik mengikuti dinamika pasar.
Emas produksi Antam yang dijual melalui Pegadaian, tercatat mengalami lonjakan hingga menyentuh Rp 3.304.000 per gram. Kenaikan tersebut sejalan dengan tren penguatan harga emas global.
Sementara itu, emas cetakan UBS juga mengalami kenaikan cukup signifikan dan saat ini dipasarkan dengan harga sekitar Rp 3.136.000 per gram. Adapun produk Galeri 24, yang merupakan lini usaha Pegadaian, dibanderol di kisaran Rp 3.068.000 per gram.
Meski harga telah menembus psikologis Rp3 juta per gram, antusiasme masyarakat untuk membeli emas justru tetap tinggi. Kenaikan harga barang dan tekanan inflasi global menjadi pemicu utama masyarakat beralih ke emas sebagai instrumen penyelamat nilai kekayaan (safe haven).
Salah satu pedagang emas di Jakarta meyebut, meski ada sebagian masyarakat yang memanfaatkan momentum ini untuk menjual simpanan lama guna meraup keuntungan, namun jumlah pembeli baru tetap mendominasi. Masyarakat kini semakin sadar bahwa emas mampu menjaga daya beli di tengah tekanan inflasi.
“Banyak yang membeli karena tahu emas ini lindung nilai untuk menjamin uangnya tidak inflasi. Kesadaran investasi masyarakat kini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Tren penguatan ini diprediksi masih akan berlanjut mengingat tingginya permintaan internal serta faktor eksternal yang belum stabil. Para pengamat ekonomi menyarankan agar masyarakat tetap jeli melihat momentum, namun tetap menjadikan emas sebagai aset jangka panjang yang paling aman di tengah fluktuasi mata uang. (ilc)