Gubernur Mahyeldi mengatakan bahwa implementasi adat dan budaya mulai memudar di Sumbar. Hal ini diberitakan KORAN PADANG terbitan Rabu (21/6). Tidak mungkin Gubernur asal ngomong. Beliau tentu punya data dan fakta, sehingga berterus-terang dengan kondisi terkini tentang adat dan budaya di Sumbar.
Memudarnya adat dan budaya di tanah bertuah ini tak bisa dibiarkan. Semua kita yang mengaku ‘urang awak’ wajib terus-menerus menerapkan ABS-SBK dalam semua aspek kehidupan. Kita semua punya tanggungjawab kolektif dalam menjaga serta merawat adat dan budaya dalam semua aspek kehidupan di tanah leluhur ini.
Kita selalu membangga-banggakan ABS-SBK. Bahkan, Belanda yang menjajah negeri ini berabad-abad lamanya tidak mampu menghabisi ABS-SBK dari Ranah Minang. Namun di saat kita sudah berdaulat, merdeka dari berbagai cengkeraman, ternyata impelementasi adat dan budaya justru memudar dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga, Gubernur Mahyeldi dengan kejelian pengamatannya menyoroti hal tersebut.
Menyikapi pernyataan Gubernur Mahyeldi, kewajiban kita bersama untuk segera mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Kita pun harus mengarifi ucapan Gubernur Mahyeldi, bahwa falsafah ABS-SBK harusnya telah menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, hal itu yang mulai jauh terutama pada generasi muda.
Semoga saja apa yang menjadi kerisauan Gubernur Mahyeldi dan juga kerisauan kita bersama, bisa segera teratasi. Mari kita sama-sama bertekad untuk melestarikan ABS-SBK dalam arti yang sebenarnya, terjauh dari kemunafikan. *