Buaya Mengganas

H. Adi Bermasa (Wartawan Senior)

SUDAH berkali-kali terjadi konflik antara manusia dengan buaya. Rata-rata dalam setiap kejadian, selalu ada korban meninggal. Kali ini, peristiwanya terjadi di Mentawai. Dua bocah diserang buaya saat bermain di sungai. Satu anak selamat dengan sejumlah luka pada sekujur tubuhnya, namun satunya lagi meninggal dunia akibat terkaman si ‘raja air’ itu. Demikian berita KORAN PADANG edisi Rabu (7/6).

Buaya memang terkenal dengan keganasannya. Memangsa korbannya hidup-hidup. Belum ada sejarahnya buaya menghindar dari manusia.

Khusus dalam kejadian di Mentawai, boleh jadi perkembangbiakanan makhluk tersebut grafiknya meningkat. Sebab, habitatnya masih nyaman karena populasi penduduk mungkin belum seramai dibandingkan di Sumbar daratan.

Munculnya serangan buaya di Mentawai tersebut pantas jadi refleksi bersama. Mungkinkah habitatnya sudah mulai terganggu? Sehingga si buaya pun mulai menyerang manusia.

Di sisi lain, Mentawai dengan kondisi geografisnya yang banyak muara sungai berujung ke laut tentu perlu jadi pemahaman bagi penduduk setempat. Untuk itu, kawasan yang jadi habitat buaya mesti dihindari. Jangan beraktivitas di kawasan tersebut. Kalau perlu, seluruh ‘kawasan maut’ tersebut dijauhi saja.

Alangkah lebih baik lagi, kawasan untuk mandi atau mencuci dibuatkan tempat khususnya sesuai dengan kesepakatan bersama. Yang jelas, lokasinya aman dari buaya yang kelaparan.

Hal ini juga berlaku untuk kawasan lain di Sumbar yang selama ini dikenal masih terdapat banyak buaya. Seperti Pasaman, Pariaman, maupun di Agam dan daerah lainnya. Kalaulah tidak jadi perhatian, peristiwa serangan buaya akan terus terjadi. Ini tentu tidak kita kehendaki sama sekali. Kita jangan sampai kalah pula oleh buaya. Waspadalah, ada buaya, berbahaya!

Related posts

Rayakan Idul Fitri dengan Gembira dan Penuh Syukur

Jalan Permindo, Kawasan Nyaman yang Harus Dipertahankan

Ironi yang Menyayat Hati