Memprihatinkan, Pecandu Narkoba di 50 Kota

H. Adi Bermasa (Wartawan Senior)

Kalau kebersamaan dalam pemberantasan narkoba di Kabupaten Limapuluh Kota tidak maksimal, dikhawatirkan di daerah ini lama-kelamaan akan identik dengan kasus narkoba. Betapa tidak, peredaran narkoba di daerah ini sudah sangat mencemaskan. Pelajar pun sudah terlibat dan dilibatkan dalam peredaran barang haram tersebut, seperti diberitakan KORAN PADANG terbitan Jumat (9/6).

Walau pihak kepolisian terus bekerja-keras memberantas peredaran narkoba, namun dengan luasnya daerah ‘Gonjong Limo’ tersebut, tentunya membuat korps baju coklat itu ‘kewalahan’ juga. Padahal, sudah berulang kali ditekankan bahwa memberantas narkoba tidak hanya tugas polisi saja, namun semua unsur yang ada, termasuk masyarakat. Percuma membuat deklarasi dan menandatangi berbagai komitmen kalau kesepakatannya tidak dijalankan.

Kalaulah kebersamaan belum begitu maksimal dimiliki masyarakat, pasti beragam problema kejahatan, dosa dan noda akan makin menjelekkan negeri ini. Sehingga, patut dipertanyakan, ke mana peran dan kiprah ninik mamak dalam membimbing kemenakannya? Apakah ulama tidak lagi disegani masyarakat kita karena seruan dakwahnya untuk menjauhi perbuatan terlarang tidak didengar dan diindahkan? Bagaimana pula peran organisasi pemuda, LPM, KAN, dan lembaga resmi lainnya? Sebab, yang terjadi justru beragam kejahatan yang memusingkan benar-benar mengganggu ketentraman masyarakat, baik di kota maupun di pedesaan.

Bagaimanapun juga, negara, daerah, nagari, hingga ke tingkat jorong, RT, dan RW tidak boleh kalah dengan beragam kejahatan yang terjadi di lingkungan masing-masing, terutama narkoba yang pelakunya sebenarnya mudah dideteksi.

Kita harus terus-menerus melawan kejahatan tersebut. Jangan sampai ada yang frustasi apalagi sampai menyerah dan angkat bendera putih. Jangan ada di antara kita tidak acuh mengamankan lingkungan masing-masing. Apalagi polisi dan tentara dengan personel bhabinkamtibmas dan babinsa di pedesaan jumlahnya sangat terbatas.

Kalau semua unsur cerdik pandai bersama lembaga reami di tingkat pemerintahan nagari dan kejorongan selalu ‘saiyo-sakato’ menjaga jorong dan nagari dari beragam rongrongan yang merusak kampung halaman, niscaya beragam aksi kejahatan maupun perilaku menyimpang akan hilang dengan sendirinya. Sebaliknya, jika beragam prilaku tercela masih saja terus terjadiini, pertanda bahwa tokoh disegani tak ada lagi di negeri awak ini. *

Related posts

Rayakan Idul Fitri dengan Gembira dan Penuh Syukur

Jalan Permindo, Kawasan Nyaman yang Harus Dipertahankan

Ironi yang Menyayat Hati