Nasib Jesigo Memprihatinkan

JERUK Siam Gunung Omeh atau Jesigo kini dilanda keprihatinan. Panennya sangat minim. Hanya tinggal sekitar 30 persen saja. Zaman keemasan Jesigo tampaknya sudah berlalu. Yang tinggal kini kawasan emas saja, sesuai dengan lokasi keberadaan sentra jesigo tersebut di Kecamatan Gunung Mas, yang dulunya juga terkenal dengan tambang emas Manggani.

Memprihatinkan. Dua zaman kesejahteraan dari utara Kabupaten Limapuluh Kota tersebut tampaknya harus berakhir. Zaman emas Manggani dan zaman emas Jesigo hanya akan tinggal kenangan belaka. Inilah bukti bahwa roda kehidupan itu berputar.

Bagaimanapun juga, tidak perlu diratapi pudarnya periode kesejahteraan rakyat dalam berbisnis emas dan jeruk. Kita hanya menjalani dan merasakan saja. Kita juga mesti introspeksi diri, baik secara hablum minannas maupun hablum minallah.

Di zaman jayanya, emas Manggani terbang melayang ke Eropa. Janji membangun jalan kereta api Payakumbuh-Limbanang sepanjang 20 kilometer sampai kini hanya tinggal janji belaka. Kini, jeruk yang sempat jadi kebanggaan, nasibnya pun mulai terasa kecut.

Hendaknya ini jadi pengalaman berharga bagi ‘rang pek eten’ Limapuluh Kota. Negeri yang kaya dan sejahtera, kini boleh jadi tinggal kenangan belaka. Namun demikian, masih ada secercah harapan yang perlu dibangkitkan dengan ‘situs bersejarah’ di Nagari Mahat. Begitu juga pengembangan tanaman gambir pantas dimaksimalkan. Di Indonesia, gambir hanya populer di Pangkalan, Kapur IX, Guguk, dan Gunung Mas serta di Siguntur Pesisir Selatan. Kini, India berada di atas angin dalam bisnis gambir yang mendunia. Sudah saatnya kawasan Limapuluh Kota jangan sampai terlena pula dalam bisnis komiditas ekspor tersebut. *

Related posts

Rayakan Idul Fitri dengan Gembira dan Penuh Syukur

Jalan Permindo, Kawasan Nyaman yang Harus Dipertahankan

Ironi yang Menyayat Hati