Pedalaman Sumbar Masih Memprihatinkan

H. Adi Bermasa (Wartawan Senior)

Meski pelaksanaan pembangunan cukup gesit sejak era Kepemimpinan Presiden Soeharto dan terus berlanjut sampai sekarang, namun begitu luasnya republik ini menyebabkan kesejahteraan belum begitu merata dinikmati rakyat, terutama di pedesaan apalagi di kawasan pedalaman, tak terkecuali di Sumbar.

Terus terang saja, kalau dilakukan ‘perjalanan jurnalistik’ ke pedalaman Sumbar dengan kriteria nagari atau kecamatan pasti akan terungkap beragam hal yang mengejutkan dan ‘aneh tapi nyata’. Misalnya saja di Kabupaten Mentawai, pasti banyak perkampungannya yang masih sulit ditempuh dengan kendaraan roda empat atau roda dua. Begitu juga di pedalaman Limapuluh Kota, Pasaman, Solok Selatan, Sijunjung, Pesisir Selatan, atau Pasaman Barat. Tentunya masih ada perkampungan yang belum tersentuh kemajuan teknologi.

Di samping keterisoliran, terkadang bencana alam juga jadi salah satu penyebab tidak mulusnya upaya memajukan daerah pedalaman. Itulah yang terjadi di Nagari Koto Lamo Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, seperti diberitakan KORAN PADANG terbitan Senin (17/7). Jalan satu-satunya ke nagari tersebut putus total. Walau masih bisa dilalui motor, namun kalau dibiarkan berlama-lama, tentu kerusakannya makin bertambah. Apalagi sekarang musim penghujan. Tanah jadi labil. Kalau jalan rusak disebabkan bencana, biasanya cepat penanggulangannya. Apalagi jika kepala daerahnya gesit dalam mengatasi dampak bencana.

Di sisi lain, alat transportasi di kawasan pedalaman Sumbar diperkirakan masih ada yang memprihatinkan. Apalagi daerah yang memiliki banya sungai lebar. Oleh karena itu, sudah saatnya pada kawasan tersebut diprioritaskan minimal membangun ‘rakit penyeberangan’ permanen, sesuai dengan daya tampung yang memungkinkan. Setidaknya bisa menyeberangkan kendaraan bermotor.

Dengan terbukanya kawasan pedalaman, Insya Allah scara berangsur-angsur daerah terisolir di Sumbar akan makin berkurang. Dengan lancarnya kendaraan lalu-lalang di pedalaman, tentu makin mnggembirakan warga setempat. Semakin besar pula peluang bagi warga untuk membuka lahan perkebunan, peternakan, dan usaha lainnya sekaligus mengangkut hasil usaha itu untuk dipasarkan ke daerah lain.

Untuk itu, ‘manaruko’ pedalaman Sumbar yang selama ini belum terjamah perlu diprioritaskan. Sehingga, memunculkan angin segar untuk kesejahteraan warganya di masa datang. Bersama kita bisa. *

Related posts

Rayakan Idul Fitri dengan Gembira dan Penuh Syukur

Jalan Permindo, Kawasan Nyaman yang Harus Dipertahankan

Ironi yang Menyayat Hati