Nama Panji Gumilang begitu populer sekarang. Tiap saat jadi pembicaraan di negeri ini. Jadi pemberitaan di berbagai media, cetak dan elektronik. Namun, kepopulerannya muncul tiba-tiba. Biasanya, mereka yang populer tiba-tiba juga cepat ‘jatuh tapai’. Mungkin saja, karena saat ini polisi telah turun tangan melakukan penyelidikan.
Panji Gumilang yang dikabarkan punya pengikut mencapai jutaan orang ini sebenarnya sudah jadi sorotan beberapa puluh tahun silam. Namun, ketika itu zaman tidak secanggih sekarang di mana informasi bisa beredar dan tersebar sangat cepat. Beredarnya berbagai video tentang Panji Gumilang dan Ponpes Al-Zaytun memantik ‘kegusaran’ umat Muslim. Hingga akhirnya berujung ke ranah hukum.
Salah satu pihak yang tegas menentang Panji Gumilang adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan ketuanya, Buya Anwar Abbas. Ulama terkemuka asal Dangung-Dangung, Kabupaten Limapuluh Kota ini bukan sembarang tokoh. Beliau anak bangsa yang punya prinsip konsekuen sejak dulunya.
Meski demikian, polemik yang terjadi di lembaga Islam swasta Mahad Al Zaytun ini diharapkan jangan sampai berdampak pada santrinya yang berjumlah ribuan. Kementerian Agama bersama jajaran Menko Polhukam pantas selalu memonitor kurikulum lembaga pendidikan Islam ini. Kalau ada yang diragukan terkait ajarannya, segera cepat diambil tindakan.
Bagaimanapun juga, Kemenag RI bersama Kemenag Jabar, MUI, FKUB, dan instansi terkait lainnya pantas tampil terdepan mengakhiri ‘silang-sengkerut’ ini. Dengan catatan, semuanya mesti berjelas-jelas. Jangan sampai ada ‘ketidakjelasan’ karena persoalan ini sudah ‘bersuluh matahari’ dan ‘bergelanggang mata orang banyak’.
Dari peristiwa AL Zaytun ini, mari kita sama-sama berkaca diri. Maksimalkan kehidupan rukun antar umat sesama agama, juga antar umat beda agama. Yang jelas, ‘peristiwa’ yang melanda Mahad Al Zaytun dengan Panji Gumilangnya adalah peristiwa tak terduga tapi infonya luar biasa. *