BERAGAM perilaku bejat dan menyimpang terus terjadi di ranah bertuah ini. Tiap hari perbuatan penuh noda dan dosa tersebut muncul dalam pemberitaan media. Tidak pandang bulu, pelakunya beragam. Mulai dari ‘gaek agogo’ sampai ‘anak mudo matah’.
Yang jelas, munculnya perangai jahanam itu minimal jadi pergunjingan yang memprihatinkan. Kalangan yang tua-tua dipastikan mengurut dada dengan maraknya perbuatan dan perangai jahat tersebut. Ibaratnya, fenomena kebejatan itu sudah bergelanggang mata orang banyak, sudah bersuluh matahari.
Kita di Minangkabau terkenal dengan adat basendi syara’, dan syara’ basandi Kitabullah. Begitu mudah menyebut dan membacanya. Namun, beragam perangai ‘buruak cando’ seakan jadi peristiwa rutin di daerah ini. Tiap hari muncul beritanya di media massa.
Dengan terjadinya dekadensi moral, sudah pantas rasanya ninik mamak kita tampil mengevaluasi diri. Kita tak ingin ABS-SBK hanya sekedar perlambang tanpa makna dan implementasi nyata.
Kita tidak saling mencari kesalahan. Namun kalau kaidah moral sudah digerogoti begitu rupa, sementara kita diam maka kita adalah insan yang lemah. Mungkin kita sedang berada pada fase ‘selemah-lemahnya iman’. Jangan sampai batasan halal-haram hilang begitu saja di negeri ABS-SBK ini. Pulang maklum pada ninik mamak kita nan gadang basa batuah. *