Problema Penyelenggaraan Haji

H. Adi Bermasa (Wartawan Senior)

Setiap musim haji selalu muncul problema berkaitan dengan ketidaksempurnaan pelayanan pada jemaah. KORAN PADANG terbitan Sabtu (1/7) melaporkan beragam duka yang dialami jemaah haji Indonesia bersumber dari keterangan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.

Sepertinya, problema tahun ini paling menonjol dan jadi sorotan luas. Persoalannya sudah muncul sejak pendaftaran, keberangkatan, hingga pelaksanaan haji di Tanah Suci. Tentunya kita masih ingat error sistem yang dialami salah satu bank milik BUMN dan sempat mempengaruhi pelunasan dana haji. Mungkin ini pula yang membuat pemerintah memperpanjang tenggat pelunasan hingga dua kali.

Kemudian pemberian living cost atau uang saku untuk jemaah dalam bentuk rupiah, bukan riyal. Sehingga, jemaah kerepotan menukarkan rupiah mereka, terutama bagi jemaah lansia yang tidak selincah jemaah usia muda.

Masih banyak problema lainnya, dan yang paling jadi sorotan adalah terlantarnya ribuan jemaah Indonesia di Muzdalifah hingga belasan jam, tidak dapat makanan, di tengah cuaca yang panas terik. Hal itu disebabkan terlambatnya angkutan transportasi yang datang menjemput.

Meski demikian, tidak perlu saling salah-menyalahkan. Yang penting adalah evaluasi agar penyelenggaraan haji tahun ke depan lebih baik.

Harus dimaklumi juga, jumlah jemaah haji Indonesia yang boleh jumlahnya terbanyak dibandingkan negara lain, dengan beragam tingkah dan perangainya terkadang di luar nalar menyebabkan muncul hal tak terduga. Misalnya ketika seorang jemaah yang sedang berada di atas pesawat tiba-tiba ngotot hendak memberi makan ayam-ayam peliharaannya, seperti yang viral beberapa waktu lalu.

Kita bukan pada posisi saling salah-menyalahkan antara petugas dengan jemaah. Bahkan, tanpa petugas pun sebenarnya jemaah yang benar-benar menguasai, mendalami, dan punya keikhlasan maksimal bisa melaksanakan rangkaian ibadah haji berbekal ilmu yang didapat selama manasik. Apalagi, juga ada ketua regu, ketua rombongan, dan ketua kloter yang bertugas mengkoordinir jemaah dengan segala kebutuhan dan keperluannya.

Ketika masih di tanah air, jemaah aman-aman saja. Namun, setelah masuk asrama haji di embarkasi, gejala ketidakstabilan sebagian kecil jemaah mulai muncul karena suasana lingkungan yang mulai berlainan dibanding sebelum masuk asrama.

Beragam tingkah jemaah tersebut sudah jadi rahasia umum bagi petugas. Tapi, petugas rata-rata tidak emosi menghadapi jemaah yang dilanda ‘salah tingkah’ tersebut. Petugas pun terus memonitor seluruh jemaah, baik melalui ketua regu, rombongan, hingga langsung pada jemaah bersangkutan.

Kesabaran adalah modal utama dalam melaksanakan Rukun Islam ke-5 tersebut. Mendalami kekuatan sabar sangat diutamakan dalam pelatihan manasik bagi calon jemaah haji. Begitu pula pelayanan ‘mandiri’ mutlak diamalkan maksimal oleh masing-masing jemaah haji.

Terjadinya beragam cobaan pada sebagian jemaah, seperti toilet mampet, tenda sesak, makan telat, sebenarnya sudah jadi ‘problema lazim’ bagi jemaah. Namun, bagi jemaah yang cerdik, mereka tidak menyerahkan semua keinginannya pada petugas. Misalnya toilet mampet, bisa pergi ke toilet yang lain. Jumlahnya banyak. Makan telat, bisa diatasi dengan persediaan pribadi yang dibawa dari tanah air. Yang penting akal jangan sampai hilang. Jangan selalu minta dilayani. Berhaji bukanlah ibadah bermanja-manja.

Inilah ujian bagi kesabaran jemaah. Bisa dilihat, setelah jemaah haji tersebut selamat tiba kembali di tanah air, berubah kah penampilan yang bersangkutan dalam kesehariannya? Berhasilkah yang bersangkutan meraih predikat haji mabrur? *

Related posts

Rayakan Idul Fitri dengan Gembira dan Penuh Syukur

Jalan Permindo, Kawasan Nyaman yang Harus Dipertahankan

Ironi yang Menyayat Hati