PENGABDIAN tanpa pamrih seorang anggota Satpol PP Kota Padang harus dibayar mahal dengan kelumpuhan akibat tulang belakangnya retak. Cedera itu dialami anggota Pol PP tersebut dalam bentrokan saat penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Pantai Padang. Begitu diberitakan KORAN PADANG terbitan Senin (26/6).
Petugas Satpol PP boleh jadi tiap hari menyabung nyawa demi kota tercinta ini. Sewaktu-waktu bencana tidak terduga muncul tiba-tiba. Seperti nasib pedih yang dialami petugas Satpol PP yang namanya sengaja tidak ditampilkan dalam berita tersebut. Tulang belakangnya retak, sehingga tak bisa berjalan. Sebagai tulang punggung keluarga, entah bagaimana kehidupan keluarganya ke depan.
Kita berharap ada tindak lanjut dari Pemko Padang atau lembaga pemerintahan terkait untuk membantu petugas tersebut, baik dalam hal biaya pengobatan maupun bantuan untuk keluarganya. Mari doakan juga agar yang bersangkutan bisa kembali pulih seperti sedia kala.
Satpol PP sebagai penegak Peraturan Daerah (Perda) setiap hari berhadapan dengan berbagai pihak yang melanggar aturan dalam berusaha hingga perbuatan asusila. Namun upaya penertiban yang dilakukan terhadap pelanggaran tersebut tidak selalu berlangsung mulus. Tak jarang muncul perlawanan dari mereka yang ditertibkan hingga suasana berubah jadi mengerikan.
Luar biasa pengabdian Satpol PP demi tertibnya kota tercinta ini. Beragam derita hingga sumpah-serapah sudah jadi ‘makanan’ tiap hari para petugas yang berjibaku menegakkan aturan di Padang Kota Tercinta ini. Tanpa Satpol PP, pasti ibukota propinsi yang kita banggakan ini ‘bagalemak-peak’ dengan beragam ketidaktertiban.
Sudah saatnya strategi baru ditampilkan oleh Satpol PP. Supaya tidak ada bentrok atau perlawanan dari pihak yang ditertibkan, sebaiknya Satpol PP terlebih dahulu ‘menguasai’ lokasi rawan sebelum pedagang menggelar jualannya.
Namun jika Satpol PP datang ketika lokasi tersebut sudah dikuasai pedagang, hampir dipastikan muncul kericuhan, bagarumeh, bercarut bungkang, aksi membuka kodek, dan beragam perbuatan tak terkendali lainnya. inilah yang mengundang petaka.
Bersama kita bisa meredam segala prilaku menyimpang, yang perlu kemauan dan keseriusan cerdik pandai di negeri ini. Pemerintah harus kuat mengatur, bukan sebaliknya, diatur oleh ‘penembak di atas kuda’. Begitulah. *