Hikmah Lebaran 

H. Adi Bermasa

SUASANA lebaran dibarengi kegembiraan dan kesejahteraan selalu muncul beriringan. Lebaran senantiasa dirayakan dengan rasa syukur dan penampilan yang ceria. Tak pernah terdengar sejak dulunya ada warga mengeluh dengan datangnya Ramadhan diakhiri dengan Hari Raya Idul Fitri.

Mulai dari anak-anak sampai kalangan dewasa begitu ceria merayakan lebaran. Semuanya berpakaian rapi dan bersih, melaksanakan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1444 H, dilanjutkan berjabat tangan, bermaafan sesama keluarga dan handai tolan. Begitu syahdu. Mudah-mudahan seluruh umat Islam kembali fitrah seperti kertas putih yang bersih dari segala noda dan dosa.

Lebaran Idul Fitri diharapkan semakin memperkuat semangat ukhuwah Islamiyah sekaligus memelihara kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan.

Lebaran pun punya makna berarti dalam membangun kebersamaan dalam memunculkan kesejahteraan. Bertepatan dengan momentum lebaran, program untuk masa depan kembali dirancang. Pedagang mentyusun strategi agar bisnisnya makin bekembang setahun mendatang. Begitu juga petani kreatif memperluas lahan usahanya.

Pokoknya, sudah jadi kebiasaan lebaran jadi momentum pengembangan usaha untuk tahun-tahun berikutnya. Tidak sedikit pengusaha sukses di negeri ini menghitung keuntungan bisnisnya sekaligus mengeluarkan zakat perniagaannya saat lebaran. Kita pun bangga dengan banyaknya pengusaha Minang yang sukses berbisnis. Saat Idul Fitri, mereka mengeluarkan zakat dari keuntungan bisnis yang ditekuni. Khusus perantau Minang, rata-rata mereka mengeluarkan zakat fitrah atau zakat hartanya untuk dunsanak di kampung halaman.

Berapapun jauhnya mereka merantau, yang jelas kampung halaman takkan pernah terlupakan. Tingginya swdaya pembangunan di kampung ataupun pedesaan juga tak bisa dilepaskan dari sokongan perantau yang sukses di negeri orang.

Sangat tepat rasanya lebaran ini menjadi momentum untuk terus mentingkatkan peran perantau dalam menyokong beragam pembangunan yang sedang atau akan dilaksanakan di kampung halaman. Untuk itu pemuka warga di kampung bersama pemerintahannya diharapkan selalu menjalin hubungan mesra dengan dunsanak di rantau. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin. *

Related posts

Pacu Kudo Duku Banyak

Nuzulul Qur’an dan Rekonstruksi Peradaban : Menghidupkan Kembali Etika Wahyu di Era Disrupsi

Luka pada Wajah Pendidikan Kita