Oleh: Wandy
CITA – cita atau niat Bupati Solok untuk membangun Kabupaten bumi penghasil ‘bareh tanamo’ itu dengan sangat serius, akan bisa tercapai jika didukung oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), serta seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Solok.
Diakui atau tidak, masih banyak nagari di bumi penghasil ‘Bareh Tanamo’ ini yang masih tertinggal atau terisolir, meskipun mantan Bupati Syamsu Rahim sudah berusaha keras untuk mengentaskan Kabupaten yang juga dijuluki sebagai Kabupaten penghasil buah markisa ini dari keterisolasian pada akhir masa jabatannya.
Bupati Solok, H. Epyardi Asda, memiliki cita-cita mulia, yakni menjadikan Kabupaten Solok sebagai yang terbaik di Sumatera Barat. Hal tersebut sungguh mulia, namun semua hal itu akan menjadi mustahil jika tidak didukung sepenuhnya oleh masyarakat, DPRD dan OPD di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok. Namun, secara bertahap, Kabupaten Solok kini mulai mengalami perubahan yang signifikan.
Masyarakat di daerah-daerah terisolir yang terdapat di Kabupaten Solok, seperti hampir di seluruh nagari yang berada di Kecamatan Tigo Lurah dan Hiliran Gumanti, sangat berharap kepada Bupati terpilih, H. Epyardi Asda. Pada masa kepemimpinan Bupati sebelumnya, Gusmal, Kabupaten Solok dikenal dengan visi dan misinya dalam Program Empat Pilar yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat, namun hasilnya masih jauh dari harapan.
Masyarakat di daerah-daerah tertinggal masih berharap agar mereka dapat menikmati kemudahan berkomunikasi melalui teknologi seperti ponsel, listrik, siaran televisi, serta layanan kesehatan dan pendidikan yang layak. Kami berharap agar pemerintah daerah terpilih tidak lagi dihadapkan pada pameo bahwa nagari mereka hanya akan dimanfaatkan sebagai basis untuk mendulang suara semata saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), namun setelah terpilih, mereka mengabaikan kebutuhan masyarakat setempat. Ini merupakan keluhan yang seringkali disampaikan oleh masyarakat kepada para pejabat yang mengunjungi nagari mereka, baik anggota dewan maupun Bupati dan Wakil Bupati.
Kami berharap agar Bupati Epyardi Asda, yang memiliki pengalaman luas di DPR RI dan telah memimpin Solok selama tiga tahun, dapat membawa kemajuan dalam pembangunan Kabupaten Solok. Program Mambangkik Batang Tarandam yang digadang-gadangkan diharapkan dapat membuka aksesibilitas Kabupaten Solok dari segala penjuru, sehingga dapat mengurangi kesenjangan antar nagari dan meningkatkan infrastruktur jalan dan jembatan.
Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah juga perlu serius dalam menempatkan tenaga pendidik secara merata di daerah-daerah tersebut, agar masyarakat dapat menikmati pendidikan yang bermutu, serta meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan.
Jika Kabupaten ini ingin benar-benar maju, pencapaian tersebut harus terwujud bukan hanya dalam media, tetapi juga dalam kenyataan sehari-hari, sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat di daerah terisolir tersebut. Sebelumnya, Kabupaten Solok pernah menjadi contoh kesuksesan dan menjadi tujuan studi banding bagi kabupaten-kabupaten lain di Indonesia, namun kini situasinya berbalik. Visi Bupati untuk memajukan sektor pariwisata juga dapat tercapai jika Bupati menempatkan orang-orang yang kompeten dan memiliki ide serta mampu menjalin kerja sama dengan pusat untuk mengembangkan pariwisata Kabupaten Solok, yang potensinya bahkan lebih besar daripada Bali.
Pembangunan sektor pariwisata juga harus didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang handal. Dinas terkait seharusnya tidak perlu melakukan studi banding ke daerah lain di luar Sumatera Barat. Contoh yang ada di kota tetangga, Sawahlunto, menunjukkan bahwa pemerintah dapat mengubah kota mati menjadi kota yang berkembang. Pertanyaannya adalah, mengapa selama ini kita membiarkan Kabupaten yang hidup ini menjadi mati? Siapa yang harus bertanggung jawab atas hal tersebut, DPRD atau pemerintah sebelumnya? Bupati H. Epyardi Asda pernah menyatakan bahwa inti dari membawa daerah terisolir keluar dari keterbelakangannya adalah infrastruktur jalan.
“Jika infrastruktur jalan yang memadai sudah tersedia, maka masyarakat akan lebih mudah terhubung ke kota, baik untuk keperluan ekonomi maupun kesehatan. Itu menjadi tugas utama kita ke depannya, dan hal tersebut harus didukung sepenuhnya oleh DPRD,” ujar H. Epyardi Asda.
Jika pemerintah memiliki konsep yang jelas untuk pembangunan, maka saya yakin seluruh daerah akan dapat terbebas dari ketertinggalan. Pemerintahan yang baik dan bersih haruslah didasarkan pada nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Selain itu, kepala OPD harus memiliki loyalitas yang tinggi terhadap Bupati, karena tanpa loyalitas tersebut, hasilnya akan menjadi nihil, karena mereka harus bekerja untuk masyarakat, bukan hanya untuk memenuhi keinginan pribadi.
Prioritas lainnya adalah masalah pendidikan. Dengan meningkatkan mutu pendidikan, kualitas manusia yang dihasilkan juga akan lebih baik, termasuk dalam hal SDM, etika, pola pikir, dan cara bertindak. Hal ini akan membantu masyarakat untuk membangun Kabupaten Solok dari segala arah. Artinya, solusi untuk membangun Solok adalah dengan berkolaborasi dengan daerah tetangga seperti Solok Selatan, Pesisir Selatan, Kota Padang, Tanah Datar, Sawahlunto, Sijunjung, dan Dharmasraya, sehingga Kabupaten Solok dapat dikenal bukan hanya dari satu arah, tetapi dari semua penjuru. Semoga berhasil!
(Penulis adalah wartawan KORAN PADANG tinggal di Solok)