Sakit Jiwa

Edi Jarot

KOLOM EDI JAROT

Di saat pesta rakyat Pemilihan Umum (Pemilu), para calon anggota legislatif (caleg) mulai gencar mempromosikan diri melalui poster, pamflet, hingga iklannya beredar di mana-mana.

Banyak caleg habis-habisan menggelontorkan banyak waktu, tenaga, dan tentunya uang untuk kampanye. Kalau sampai tidak terpilih, wajar risiko stres akan membayangi.

Biasanya stres atau depresi yang dihadapi caleg tergantung pada masing-masing pribadinya. Bagi yang beriman tebal, terpilih atau tidak dibawa santai saja. Pokoknya tidak putus asa, apalagi sampai kecewa berat hingga sakit jiwa.

Pada Pemilu 2024, ribuan caleg ikut mengadu nasib, baik untuk DPR RI, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten dan kota. Diperkirakan hanya sekitar 10 atau 15 persen dari caleg tersebut yang bakal lolos menjadi anggota dewan. Selebihnya tersisih alias gagal total. Biasanya, caleg gagal itu yang berkemungkinan mengalami stres atau depresi.

Mereka sebelumnya yakin akan duduk di kantor dewan. Banyak orang dianggap memilih dia karena bantuan pun sudah ditebar kemana-mana. Begitu tinggi keyakinannya.

Namun setelah penghitungan suara, suara yang didapat tidak lebih dari 10. Tentu saja caleg itu meradang, emosi, dan bicara ngawur yang tak jelas ujung pangkalnya. Makan tak mau, mata tak bisa dipicingkan malam hari. Pikiran melayang entah kemana. Lantaran iman juga tipis, akhirnya caleg tersebut mengalami gangguan jiwa. Yang parahnya, istri minta cerai. Hancur minah!

Bagi yang berjiwa besar, soal terpilih atau tidak, nggak diambil pusing. Soalnya itu kan amanah rakyat, karena rakyat yang memilih.

Sengsara lah bagi caleg yang ikut bertarung hanya demi mendapatkan lapangan kerja dengan bayangan gaji lumayan besar. Kita berharap, pemilu legislatif usai, para caleg yang gagal aman-aman saja dan tak ada yang stress.

Bagi caleg jadi, laksanakanlah amanah sebaik mungkin demi kepentingan masyarakat. Tepatilah janji manis saat kampanye. Semoga.

Related posts

Pacu Kudo Duku Banyak

Nuzulul Qur’an dan Rekonstruksi Peradaban : Menghidupkan Kembali Etika Wahyu di Era Disrupsi

Luka pada Wajah Pendidikan Kita