PAYAKUMBUH, KP – Masyarakat Kampung Adat Balai Kaliki, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, mengikuti program pemberdayaan melalui pelatihan dan pendampingan digital marketing pariwisata berbasis kearifan lokal.
Program ini dilaksanakan dengan skema Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN), melibatkan Program Studi D4 Manajemen Perhotelan Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai pelaksana, dengan Kampung Adat Balai Kaliki sebagai mitra.
Ketua tim pengabdian, Youmil Abrian, S.E., M.M., menyebut program dirancang agar masyarakat mampu mengelola etalase digital sendiri dengan rapi, konsisten, namun tetap berakar pada identitas budaya.
“Program ini didesain agar masyarakat mampu mengelola etalase digitalnya sendiri, rapi, konsisten, dan tetap berakar pada identitas budaya,” ujar Youmil, dalam keterangan resminya, Kamis (2/10/2025).
Kegiatan resmi dibuka oleh Ketua Komunitas Adat, Seni, dan Budaya Minangkabau, Alnoferi Dt. Rajo Mangkuto Nan Putiah.
Ia mengapresiasi kontribusi UNP dalam mengembangkan potensi wisata berbasis masyarakat, sekaligus menekankan pentingnya digital marketing untuk memperkuat daya saing destinasi.
Menurutnya, promosi yang terarah dapat membuka kolaborasi antara pengelola destinasi, pelaku UMKM, dan komunitas budaya.
Pelatihan utama bertajuk “Digital Marketing untuk Kemajuan Balai Kaliki: From Boomer to Zoomer: Balai Kaliki Go Digital!” menghadirkan narasumber Rian Surenda, S.E.I., M.M.
Rian menjelaskan, kolaborasi lintas generasi menjadi kunci. Generasi Z fokus menangkap tren dan membuat konten reels, Milenial merancang strategi dan kalender konten, Gen X mengelola proyek dan evaluasi, sedangkan Boomer menjaga otentisitas narasi budaya.
Pelatihan digital marketing pariwisata berbasis kearifan lokal di Kampung Adat Balai Kaliki, Kota Payakumbuh.
Pada sesi teknis, peserta diarahkan memanfaatkan platform seperti Facebook untuk komunitas, Instagram untuk visual destinasi, TikTok untuk jangkauan cepat, dan WhatsApp untuk konversi serta tindak lanjut.
Peserta juga dibekali formula AIDA dan template caption siap pakai untuk mempercepat produksi konten serta mempertegas call-to-action (CTA).
Program diperkuat tantangan “30 Hari 30 Konten” dengan dukungan grup WhatsApp, sistem pendampingan, dan evaluasi bertahap.
“Digital marketing bukan sekadar alat, namun juga cara kolaborasi lintas generasi menjaga otentisitas sambil memperluas jangkauan,” kata Rian.
Selain itu, pelatihan lanjutan bertajuk “Teknik Storytelling untuk Nilai-Nilai Budaya Lokal” membekali peserta dalam merangkai kisah otentik dalam format teks, foto berurutan, hingga video pendek.
Peserta memetakan nilai inti seperti gotong royong, sopan santun, dan adat basandi syarak, lalu mengolahnya menjadi alur cerita dengan pola hook, inti, dan ajakan.
Menutup kegiatan, Youmil Abrian menegaskan kembali arah program.
“Melalui kegiatan ini, Balai Kaliki membangun modal berkelanjutan untuk memperluas jangkauan destinasi dan produk lokal, menjaga otentisitas budaya, serta mengakselerasi pemanfaatan peluang ekonomi digital,” ujarnya.
Dengan fondasi ini, kolaborasi akademisi dan komunitas diharapkan terus tumbuh dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (ak)