Konvergensi Pencegahan Stunting, Tim UNP Dampingi Penyusunan Menu MPASI di Nagari Taram

Tim pengabdian masyarakat UNP berfoto bersama saat kegiatan konvergensi stunting di Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota.

Stunting saat ini menjadi fokus nasional pemerintah Indonesia yang tertuang dalam Rencana Pembangungan Jangka Menengah (RPJM) Nasional tahun 2020-2024. Stunting juga merupakan isu global di beberapa negara di dunia, khususnya negara berkembang. Hal ini dikarenakan buruknya dampak stunting terhadap individu dan masyarakat yang secara lansung atau tidak lansung, mempengaruhi kemajuan ekonomi suatu negara, konstruksi sosial, dan menghambat pembangunan manusia.

Kondisi stunting merupakan kondisi yang irreversible atau tidak dapat diperbaiki setelah anak berusia dua tahun. Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) termasuk dari awal trimester kehamilan ibu, menjadi titik kritis perkembangan stunting pada anak dibawah usia lima tahun dan berlanjut sampai usia 6-12 tahun. Konsekuensi stunting pada seorang anak adalah buruknya performa kognitif anak dimulai dari ketika kanak-kanak dan terus berpengaruh selama sisa hidup mereka.
Stunting juga memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia, termasuk terhadap produktivitas tenaga kerja dan upah yang lebih rendah, dikarenakan adanya kondisi fisik, pendidikan, dan kognitif yang menurun.

Menurut literatur, kerugian pendapatan perkapita karena stunting berkisar 5-7 persen di negara berpendapatan rendah dan menengah, sedangkan upaya penurunan stunting diproyeksi akan meningkatkan produktivitas ekonomi suatu negara dengan meningkatnya Produk Domestik Bruto sebesar 4-11 persen.

Kementerian Kesehatan mengumumkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Rapat Kerja Nasional BKKBN (2023), bahwa prevalensi stunting di Indonesia menurun dari 24,4 persen di tahun 2021 menjadi 21,6 persen di tahun 2022. Meskipun terdapat penurunan angka stunting, namun prevalensi ini masih diatas target minimal yang ditetapkan oleh WHO yaitu kurang dari 20 persen. Sementara itu, Presiden Joko Widodo menargetkan angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 adalah 14 persen.

Beranjak dari hal tersebut tim pengabdian masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) melakukan kegiatan konvergensi stunting melalui pembekalan materi seba-serbi Makanan Pendamping ASI (MPASI) diikuti dengan pendampingan penyusunan menu MPASI secara intensif dalam rangka meningkatkan literasi maternal orangtua atau calon orang tua dalam memenuhi nutrisi seimbang anak. Kegiatan ini diadakan di Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota.

Peserta dalam kegiatan ini mencakup ibu dengan kehamilan pertama yang nantinya akan mempersiapkan makanan untuk anaknya, sehingga dapat memperdalam ilmu lebih awal. Selain itu hadir juga ibu dengan balita yang masih MPASI, ibu yang sedang mempersiapkan kehamilan, serta kader posyandu dengan harapan agar dapat membagi ilmu yang diperoleh kepada masyarakat yang lebih luas.

Program pengabdian yang dilaksanakan dari bulan Agustus sampai Desember 2023 ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah intervensi yang tepat untuk mencegah stunting di Nagari Taram dan berkontribusi menurunkan angka stunting di Indonesia sampai pada angka 14 persen pada tahun 2024.

Ketua tim pengabdian masyarakat UNP, Riski Gusri Utami mengatakan, Kabupaten Limapuluh Kota merupakan salah satu lokus stunting di tingkat nasional pada tahun 2022. Nagari Taram termasuk salah satu nagari yang menyumbang prevalensi stunting di Kabupaten Limapuluh Kota. Berdasarkan hasil penimbangan massal anak pada Februari 2022 di Nagari Taram, terdapat sekitar 2,9 persen atau 16 balita stunting dari 559 balita yang diukur. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya di mana terdapat 24 balita dan 19 balita stunting berturut-turut pada bulan Februari 2021 dan Agustus 2021.

Menurunnya trend ini menjadikan Nagari Taram tidak termasuk ke dalam 13 nagari yang difokuskan dalam penurunan stunting di Kabupaten Limapuluh kota. Namun, untuk ukuran sebuah nagari, sebaiknya angka stunting menurun sampai tidak adanya balita stunting di nagari tersebut.

Melalui observasi dan wawancara, tim menemukan bahwa faktor pengetahuan maternal tentang pemenuhan nutrisi anak usia dini menjadi salah satu determinasi atau penyebab stunting di Nagari Taram. Beberapa kasus yang ditemukan di antaranya adalah adanya orang tua yang memberikan anak MPASI tunggal atau hanya satu makronutrisi saja, misalnya bubur beras dan sayuran saja tanpa protein, dan lemak.

Sesi Pendampingan Menu MPASI.

Padahal, menurut dr. Mirnawati, M. Biomed yang juga merupakan salah satu narasumber dalam kegiatan pengabdian ini, MPASI yang adekuat harus terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, serta serat dari buah atau sayur. Selain itu, orang tua juga kurang percaya diri dalam menyediakan MPASI perdana anak, sehingga mengandalkan MPASI yang dibuat orang lain yang tidak dikenal yang biasanya dijual di pasar tradisional setempat, yang mana belum tentu sesuai dengan kebutuhan gizi anak dan juga tidak terjamin higenitasnya. Kemudian, tidak sedikit orang tua yang hanya memberikan MPASI instan kepada bayinya.

Keadaan-keadaan di atas disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang menu MPASI yang padat gizi menyesuaikan kalori yang dibutuhkan oleh anak sesuai usia, dan juga pengetahuan tentang strategi pemberian MPASI yang tepat waktu, adekuat, aman dan higienis, serta pemberian makan yang responsif.

Oleh karena itu, tim pengabdian yang dipimpin Riski Gusri Utami, MSc., dengan anggota Sari Mustika S.Pt., M.Si., dan Tisna Syafnita, M.Pd, melakukan kegiatan konvergensi stunting melalui pembekalan materi seba-serbi MPASI diikuti dengan pendampingan penyusunan menu MPASI secara intensif dalam rangka meningkatkan literasi maternal orangtua/calon orang tua dalam memenuhi nutrisi seimbang anak.

Pengabdian yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) Universitas Negeri Padang ini juga melibatkan mahasiswa, di antaranya M. Gilang Perdana, Deming Sarta, Salsa Billa, Jihan Putri, Afri Liana, Nabela Novelyra, dan Agil Huseini.

Tahap pertama pengabdian dimulai dengan pemberian pembekalan tentang dampak stunting untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap stunting. Tisna Syafnita langsung menjadi narasumber dalam sesi tersebut. Kegiatan selanjutnya yaitu memberikan materi yang intensif dan mendalam tentang Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA), terkait dengan strategi pemberian MPASI. Pada sesi ini dibahas mendetail tentang ketepatan waktu MPASI, MPASI yang higienis, MPASI lengkap dan adekuat, serta peran zat besi untuk perkembangan otak anak.

Kegiatan ketiga dilaksanakan pada 17 November 2023, yaitu pendampingan penyusunan menu makan anak khususnya menu MPASI usia 0-24 bulan. Pada kegiatan ini, dr. Mirnawati, M.Biomed selaku narasumber dan juga tim pengabdian memberikan pembekalan tentang langkah-langkah penyusunan MPASI sesuai kalori yang dibutuhkan anak pada level usia tertentu, serta membantu masyarakat menghitung kalori makanan secara sederhana. Pada kegiatan ini masyarakat juga dibekali pedoman menu MPASI tujuh hari dengan berbagai alternatif jumlah kalori.

“Kami membagi lebih kurang 84 pedoman menu harian, lengkap dengan takarannya, dan dengan nilai total kalori untuk usia 0-24 bulan. Harapannya adalah masyarakat dapat lebih percaya diri dalam menyiapkan MPASI karena sudah tau takarannya dan yakin bahwa kalori dalam MPASI tersebut cukup untuk kebutuhan anaknya,” tutur Riski Gusri Utami.

Menariknya, masyarakat justru menyadari bahwa pembekalan cara menyusun menu MPASI ini tidak hanya bermanfaat bagi mereka secara pribadi dalam menyusun menu anak dan keluarga, namun juga bisa menjadi peluang usaha di masa depan.
“Ketika sudah tahu nilai kalori dan cara mempersiapkan MPASI yang baik sesuai usia, artinya kami bisa juga menjual MPASI ini nantinya, ya Dok,” ucap salah satu peserta.

Hal ini juga menjadi salah satu harapan dari tim pengabdian yaitu timbulnya semangat berwirausaha di masyarakat sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Nagari Taram.

Demo pembuatan MPASI adekuat dan higienis.

Tim pengabdian dengan background tata boga juga melakukan demontrasi pengolahan makanan yang mudah dan murah sesuai dengan potensi lokal, dalam rangka meningkatkan motivasi orang tua untuk mempersiapkan makanan yang diolah sendiri dengan bahan yang mudah didapat.

“Selain tidak percaya diri dalam mengolah makanan sendiri, pada zaman ini banyak juga orang tua yang menganggap bahwa makanan yang terbaik untuk anaknya adalah menggunakan bahan baku dengan nilai ekonomis tinggi, padahal sebenarnya kita bisa menggunakan apa yang ada disekitar kita untuk menjadi sumber makanan yang bergizi tinggi bagi anak,” ucap Tisna Syafnita.

Pada sesi ini juga dijelaskan cara menyimpan makanan yang tepat dengan penggunaan kulkas chiller atau freezer, pengetahuan ini sangat bermanfaat bagi orang tua yang tidak bisa setiap waktu menyiapkan makan untuk keluarga.

Wali Nagari Taram Nanang Anwar mengucapkan terimakasih kepada tim pengabdian UNP karena telah memilih Nagari Taram sebagai mitra. “Kami sangat berterimakasih kepada Tim Pengabdian UNP dan berharap UNP tetap memprioritaskan Nagari Taram dalam program-program lain ke depannya,” tuturnya. *

Related posts

UNP Gelar Pengabdian Masyarakat ‘Bilih-Peduli’ di Tanah Datar

Pemko Payakumbuh Dukung PSDKU UNP Cetak SDM Unggul Daerah

Wako Ramadhani Ajak Pelajar Persiapkan Masa Depan