Kritik Sastra Tubuh Perempuan sebagai Ruang Perlawanan: Kritik Feminisme terhadap Novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu

Ilustrasi.

DALAM lanskap sastra Indonesia, tubuh perempuan kerap dibingkai dalam narasi yang tidak lahir dari pengalaman perempuan itu sendiri. Tubuh tersebut dipagari oleh moral agama, diklaim oleh institusi keluarga, dan dijadikan simbol kehormatan kolektif. Karena itu, kehadiran novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu tidak hanya menampilkan keberanian estetika, tetapi juga memperlihatkan pernyataan politik feminis yang tegas. Novel ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan dapat menjadi ruang otonom, tempat seorang perempuan menolak segala bentuk penguasaan eksternal dan menegaskan hak penuh atas dirinya sendiri.

Dalam pandangan penulis, Nayla layak dibaca tidak hanya sebagai karya fiksi, tetapi juga sebagai teks perlawanan feminis yang menantang struktur patriarkal melalui medium paling personal sekaligus paling politis yaitu tubuh. Dalam perspektif teori feminisme, terutama feminisme radikal dan feminisme post-struktural, tubuh perempuan tidak pernah netral. Tubuh tersebut menjadi medan perebutan kuasa, identitas, dan agensi. Djenar menempatkan tokoh Nayla tepat di jantung pertarungan tersebut.

Salah satu momen paling kuat yang merangkum semangat itu terlihat ketika Nayla menyatakan bahwa ia menginginkan tubuhnya sepenuhnya menjadi miliknya sendiri, bukan milik suami, bukan milik Tuhan, dan bukan milik siapa pun.

Menurut penulis, pernyataan itu bukan hanya bentuk penolakan terhadap struktur perkawinan atau kewenangan agama, tetapi juga deklarasi kedaulatan tubuh yang selaras dengan gagasan Simone de Beauvoir dan Judith Butler. De Beauvoir melalui The Second Sex menekankan bahwa perempuan tidak lahir sebagai “perempuan” karena identitas tersebut dibentuk oleh struktur sosial. Butler menambahkan bahwa gender merupakan performa, dan tubuh adalah arena di mana performativitas itu dinegosiasikan, ditegaskan, atau dilawan.

Dalam konteks ini, Nayla memilih untuk menolak dibentuk. Ia menolak menjadi “milik” siapa pun karena ia menyadari bahwa selama tubuhnya dianggap milik bersama, ia tidak akan pernah memiliki kebebasan penuh.

Keberanian Djenar tampak melalui caranya menghadirkan tubuh Nayla tanpa penyucian. Dalam banyak karya sastra Indonesia sebelumnya, tubuh perempuan yang dianggap “melanggar” norma—baik melalui ekspresi seksualitas, keinginan, maupun penolakan terhadap peran domestik—biasanya digiring menuju hukuman naratif berupa penderitaan, kematian, atau pertobatan. Nayla mematahkan pola tersebut. Nayla tidak menyesal, tidak meminta maaf, dan tidak tunduk pada mekanisme penebusan. Ia hidup dengan segala konsekuensinya. Menurut penulis, sikap ini merupakan bentuk perlawanan feminis yang mendasar karena menolak logika patriarkal yang menuntut perempuan kembali patuh setelah dianggap “menyimpang”.

Lebih jauh, Nayla menantang dikotomi biner yang selama ini mengurung perempuan dalam kategori “baik” atau “buruk”. Djenar menempatkan Nayla di luar batasan itu. Ia tidak digambarkan suci, tetapi juga tidak digambarkan jahat. Tokoh ini dihadirkan sebagai pribadi yang utuh, yang berhak atas ambiguitas, keinginan, dan pilihan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan masyarakat. Dengan cara itu, Djenar memperluas ruang representasi perempuan dalam sastra Indonesia.

Bahasa yang digunakan Djenar menjadi bagian dari strategi tersebut. Ia menulis tubuh perempuan tanpa eufemisme dan tanpa menutupinya dengan metafora yang memoles kenyataan. Penulis melihat kejujuran linguistik ini sebagai kekuatan utama narasi. Tubuh perempuan tidak perlu disamarkan agar layak dibaca, karena tubuh itu adalah milik perempuan yang mengalaminya.

Dua dekade setelah terbitnya, Nayla tetap relevan. Di tengah perbincangan kontemporer mengenai otonomi tubuh, konsentualitas, dan kebebasan reproduksi, novel ini muncul sebagai teks yang terasa visioner. Nayla tidak hanya melawan struktur patriarki pada masa penulisannya, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan hari ini untuk menyatakan bahwa tubuh merupakan urusan mereka sendiri.

Dengan demikian, Nayla bukan semata novel provokatif. Novel ini dapat dibaca sebagai manifesto feminis yang membebaskan tubuh perempuan dari statusnya sebagai objek dan menjadikannya ruang perlawanan yang otonom. Djenar menghadirkan tubuh perempuan sebagai sumber agensi, sekaligus medium bagi perempuan untuk menegaskan hak dan keberadaannya. *

Related posts

UNP Gelar Pengabdian Masyarakat ‘Bilih-Peduli’ di Tanah Datar

Pemko Payakumbuh Dukung PSDKU UNP Cetak SDM Unggul Daerah

Wako Ramadhani Ajak Pelajar Persiapkan Masa Depan