APAKAH kamu pernah merasa gelisah saat melihat temanmu sudah magang diperusahaan ternama, menyelesaikan kuliah lebih cepat, atau tampak begitu sempurna di media sosial? Jika iya, kamu tidak sendirian. Kondisi seperti ini kini dikenal dengan istilah anxiety culture atau budaya kecemasan sebuah fenomena yang banyak dialami oleh generasi muda, khususnya di kalangan mahasiswa.
Kecemasan yang dirasakan kini tak hanya terbatas pada ketakutan menghadapi ujian, tetapi telah meluas mencakup kekhawatiran tentang masa depan, rasa takut tertinggal, ditolak secara sosial, hingga tuntutan pencapaian yang tidak masuk akal.
Dalam konteks akademis, hal ini bukan semata-mata persoalan psikologis individu, melainkan merupakan isu psiko-kultural yakni perpaduan antara kondisi mental seseorang dan tekanan budaya yang memengaruhinya.
Situasi ini tidak muncul begitu saja. Ia berkembang dalam ekosistem digital yang secara aktif memengaruhi pola pikir generasi muda. Lewat algoritma media sosial, gambaran tentang kehidupan yang dianggap ‘sempurna’, mulai dari keberhasilan akademik, karier yang gemilang, hingga kehidupan pribadi yang terlihat ideal—terus disebarluaskan dan diulang-ulang. Tekanan inilah yang secara bertahap membentuk budaya kecemasan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian para mahasiswa.
Situasi ini semakin diperburuk oleh algoritma media sosial yang terus-menerus menayangkan konten serupa, sehingga pengguna merasa terperangkap dalam siklus perbandingan yang tiada henti. Munculnya tagar seperti #QuarterLifeCrisis, #BurnoutCulture, dan #AnxietyCheck mencerminkan bahwa kegelisahan ini bukan lagi sekadar persoalan pribadi, melainkan telah berkembang menjadi kesadaran bersama di tengah masyarakat.
Dalam pandangan teori psiko-kultural, kecemasan bukan semata-mata dianggap sebagai masalah pribadi atau internal individu, melainkan merupakan hasil dari konstruksi sosial dan budaya yang melingkupinya. Setiap individu tumbuh dan berkembang dalam konteks lingkungan yang membentuk cara pandang terhadap hal-hal yang dianggap penting, pantas, dan wajar. Nilai-nilai budaya seperti tuntutan untuk sukses di usia muda, tampil kuat tanpa mengeluh, serta pencapaian sosial menjadi tolok ukur yang menimbulkan tekanan tersendiri.
Sementara itu, budaya lokal yang mengharuskan mahasiswa untuk selalu terlihat kuat seringkali bertabrakan dengan pengaruh budaya global yang mendorong ekspresi emosi secara terbuka. Ketegangan antara dua nilai budaya yang bertolak belakang ini menimbulkan konflik batin, di mana mahasiswa mengalami kebingungan: apakah harus menunjukkan kerentanannya secara jujur, atau justru menekannya demi menjaga citra di hadapan publik.
Hadirnya media sosial telah mempercepat munculnya budaya membandingkan diri dengan orang lain. Unggahan tentang pencapaian individu seringkali menimbulkan perasaan tertinggal pada mahasiswa, meskipun kenyataannya mereka masih berada di jalur yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Paparan terus-menerus terhadap hal ini menciptakan tekanan psikologis bersama yang mendorong lahirnya kebiasaan overthinking dan tuntutan untuk terus produktif secara berlebihan serta narasi seperti ‘harus semangat’ dan ‘angan menyerah’, yang dikenal sebagai toxic productivity dan toxic positivity, dorongan untuk selalu terlihat sibuk dan berguna, bahkan saat tubuh dan mental mereka sudah kelelahan.
Namun demikian, meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental menjadi perkembangan yang positif. Saat ini, semakin banyak mahasiswa yang mulai terbuka dalam menyuarakan kegelisahan mereka, mencari pertolongan, serta terlibat dalam diskusi mengenai isu-isu psikologis secara lebih terbuka.
Data dari Remaja Sehat Indonesia (2024) mencatat adanya lonjakan sebesar 40% dalam partisipasi mahasiswa terhadap layanan konseling online dan seminar terkait kesehatan mental dibandingkan tahun sebelumnya.
Budaya cemas di kalangan mahasiswa bukanlah tren yang lewat begitu saja. Ia adalah cerminan dari perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang saling berkelindan. Melalui pendekatan teori psiko-kultural, kita memahami bahwa solusi tidak hanya terletak pada individu, tapi juga pada sistem budaya yang membentuknya.
Generasi ini bukanlah overthinking generation, mereka adalah generasi yang sedang berjuang untuk menavigasi dunia yang serba cepat, terbuka, namun penuh tekanan. Dan satu hal yang pasti, mereka tidak sendirian. *