PADANG, KP – Dalam rangka membantu pemerintah dalam menekan angka stunting, Prodi DIII Kebidanan STIKes Mercubaktijaya Padang mengadakan pengabdian masyarakat sebagai implementasi tridharma perguruan tinggi dengan mengadakan Program Optimalisasi PIK-R sebagai Intervensi, Controlling, dan Edukasi (POP ICE) Pencegahan Stunting pada Remaja.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Farida Ariyani (dosen Prodi DIII Kebidanan) dengan anggota Eka Putri Primasari dan Dian Febrida Sari (dosen Prodi DIII Kebidanan), Yulinda (tenaga kependidikan), dan lima orang mahasiswa Prodi DIII .
Farida Ariyani menjelaskan, kegiatan ini dilakukan di Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Melati IV, Pasa Lalang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, PIK-R Melati IV memiliki program ‘penyuluh teman sebaya’. Dalam mengoptimalisasikan fungsinya sebagai pendidik teman sebayanya, maka remaja yang merupakan pengurus PIK-R Melati IV yang bertugas sebagai pendidik sebaya melakukan pembinaan pada teman sebayanya yang memiliki masalah anemia, Indeks Masa Tubuh (IMT) yang tidak normal, dan lingkar lengan atas sebagai indikator tingkat gizi seorang perempuan.
Farida memaparkan, pencegahan stunting dilakukan dengan menjaga kualitas 1.000 hari pertama kehidupan. Persiapan untuk kualitas kehidupan di 1000 HPK tersebut dimuali sejak pra nikah, pra konsepsi, selama hamil dan menyusui. Target utama untuk mewujudkan generasi yang berkualitas adalah menjadikan cikal bakal generasi penerus (remaja) sebagai pelaksana pencegahan stunting.
“Oleh sebab itu keterlibatan langsung remaja dalam pencegahan stunting dilakukan oleh remaja itu sendiri. Bentuk upaya yang dilakukan adalah pengoptimalan peran PIK-R, deteksi dini masalah kesehatan remaja dan pendampingan remaja yang beresiko stunting,” kata Farida dalam keterangannya kepada KORAN PADANG, Minggu (26/11/2023).
Ia menyebut, program-program pencegahan dan penanggulangan yang telah dicanangkan ataupun dijalankan belum menempatkan remaja sebagai pelaksana utamanya. Intervensi untuk mencegah terjadinya peningkatan prevalensi stunting dapat dilakukan pada siklus daur hidup di tahap remaja.
“Pengelola PIK-R Melati IV sudah mengikuti pelatihan menjadi pendidik ataupun konselor sebaya. Hal ini menjadi dasar bagi mereka untuk menjadi penggerak remaja di wilayahnya untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat menunjang peningkatan kualitas sumber daya untuk masa depan. Sebagai bentuk optimalisasi keberadaan PIK-R Melati IV, maka kegiatan POP ICE ini dilakukan di bawah pengontrolan,” terangnya.
Lebih lanjut dipaparkannya, pendidik teman sebaya di-’briefing’ untuk menjadi pendamping (bestie) bagi remaja yang memiliki masalah anemia, Kekurangan Energi Kronik (KEK), dan memiliki Indeks Masa Tubuh yang tidak normal. Remaja yang memiliki masalah tersebut diberikan intervensi untuk perbaikan kondisi mereka.
Untuk mengidentifikasi masalah pada remaja maka dilakukan skrining oleh tim pengabdian kepada masyarakat dengan melakukan pemeriksaan tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas, dan pemeriksaan haemoglobin darah. Setelah diperiksa, maka remaja dikelompokkan berdasarkan hasil pemeriksaan. Kelompok remaja terdiri dari kelompok anemia (tiga orang remaja), kelompok KEK, dan kelompok IMT abnormal (sepuluh orang), dan remaja yang berat berlebih (tiga orang).
Farida juga menyampaikan, bahwa pengontrolan dilakukan dengan menggunakan ‘log book’. Pemantauan dan koordinasi terhadap remaja juga dilakukan melalui grup media sosial yang telah dibentuk.
“Masing-masing bestie dan penanggungjawab pengabdian kepada masyarakat pada kelompok remaja melakukan pengontrolan tersebut, dengan demikian harapan untuk adanya perbaikan terhadap remaja tersebut dapat terwujud,” ulasnya.
Remaja yang mengalami anemia diberikan tablet Fe untuk perbaikan kondisi Hb. Pada remaja yang mengalami masalah KEK dan IMT kurus diberikan makanan tambahan. Sedangkan untuk remaja yang mengalami berat badan berlebih diberikan pemantauan aktifitas fisik.
“Evaluasi terhadap intervensi yang dilakukan pada remaja tersebut dilakukan seminggu berikutnya. Pemeriksaan yang dilakukan sebagai evaluasi adalah pemeriksaan BB, LILA dan Hb,” pungkasnya. (ak/*)