Dua Kematian Misterius Picu Rasa Penasaran Publik

Briptu Setyo Herlambang

JAKARTA, KP – Dua kematian misterius dalam sepekan terakhir menimbulkan rasa penasaran publik.  Kedua kematian itu tidak terkait satu sama lain, namun mengundang spekulasi dari berbagai pihak.

Kasus kematian pertama adalah remaja berinisial CHR (16 tahun), anak seorang perwira menengah TNI berpangkat kolonel. Korban ditemukan terbakar di Pos Spion Ujung Landasan 24 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur (Jaktim), Minggu (24/9) sekitar pukul 19.00 WIB. Korban diduga masih hidup saat terbakar dan ada luka tusukan di dada. Peristiwa apa yang membuat anak perwira menengah (pamen) TNI AU ini tewas dan terbakar, masih belum jelas.

Lokasi tewasnya korban, yaitu Pos Spion Lanud Halim Perdanakusuma adalah lokasi yang tidak sembarangan orang bisa masuk. Dekat jasad korban ditemukan beberapa barang bukti, di antaranya pisau dapur.

Polres Metro Jakarta Timur (Jaktim) telah menganalisa 18 kamera CCTV yang diamankan di sekitar lokasi kejadian. Namun, dari seluruh CCTV yang diamankan, hanya empat titik yang merekam korban.

Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Leonardus Simarmata mengatakan, CCTV yang mengarah ke TKP tidak bisa dianalisis karena pada saat kejadian tidak berfungsi alias mati.

“CCTV yang posisinya berada di depan TKP atau yang mengarah langsung tidak berfungsi,” ujarnya, Jumat (29/9).

Menurutnya, CCTV yang rusak itu sudah tidak berfungsi sebelum insiden terbakarnya CHR. Namun rekaman CCTV lainnya, kata Leonardus, sempat merekam CHR yang terpantau mengayuh sepeda ke TKP. Namun rekaman itu terputus ketika mengarah ke lokasi karena CCTV rusak.

“Dia menggunakan sepeda, sepeda yang kami temukan di TKP. Jadi dia mengayuh sendiri menuju TKP,” pungkasnya.

Penyidik juga telah memeriksa ponsel komputer dan tablet serta akun game online Roblox milik korban CHR. Di akun itu ditemukan tulisan berbahasa Inggris dan polisi masih menelusuri keterkaitannya dengan kejadian tewasnya korban.

“Ditemukan status di Roblox korban bertuliskan ‘Hai if you see this’ artinya kalau kamu melihat ini, ‘I’m probably already dead’ saya mungkin sudah meninggal’,” jelas Kombes Leonardus.

Penyidik juga akan memeriksa saksi dari tempat CHR bersekolah yakni wali kelas, teman, dan guru konseling.

Sementara, Kepala RS Polri Kramat Jati, Brigjen Pol Hariyanto mengungkapkan, CHR tewas lantaran kehabisan darah dari enam luka tusuk sedalam 6,5 cm di tubuh korban.

“Kemudian dari hasil pemeriksaan terhadap kerongkongan, jalan nafasnya, di sana didapatkan jelaga. Artinya, saat terjadi kebakaran tersebut kondisi (korban) masih hidup,” katanya.

Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri menduga penyebab tewasnya anak perwira menengah Angkatan Udara TNI berinisial CHR mengarah ke pembunuhan. Meski begitu dugaan ini masih perlu melalui proses investigasi dari pihak kepolisian.

“Kondisi tubuh terbakar sedemikian rupa mengingatkan saya pada misi kedua kejahatan. Di mana misi kedua kejahatan bahwa setiap pelaku kejahatan berusaha menghindari pertanggungjawaban pidana dengan menghilangkan barang bukti, mempengaruhi saksi, merusak CCTV, membangun alibi, dan seterusnya,” jelas Reza.

“Itu cara yang dipakai oleh pelaku untuk menghindari pertanggungjawaban pidana,” terangnya.

KEMATIAN PENGAWAL KAPOLDA KALTARA

Kasus berikutnya yang memancing rasa penasaran publik adalah kematian misterius Briptu Setyo Herlambang (SH) yang merupakan pengawal Kapolda Kalimantan Utara (Kaltara) Irjen Pol Daniel Aditya.

Polisi berlatar gegana (penjinak bom Brimob) itu ditemukan tewas di rumah dinas Irjen Pol Daniel Aditya, Jumat pekan lalu (22/9). Jasadnya tergeletak di kamar dan pertama kali ditemukan oleh rekannya sesama pengawal kapolda, Briptu K saat hendak mengajak Briptu SH makan siang.

K awalnya hendak memperlihatkan makanan yang telah dimasaknya lalu mendatangi kamar Herlambang. K terkejut melihat Herlambang sudah tergeletak bersimbah darah di kasur. Darah segar mengalir dari dadanya. Tak jauh dari jasad, ditemukan sebuah pistol.

Hasil pemeriksaan RS Bhayangkara Jawa Tengah, Herlambang tewas akibat luka tembak yang menembus jantung dan paru-parunya. Kamera pengawas CCTV di samping rumah jabatan kapolda merekam sederet fakta menarik. Salah satunya hal proyektil peluru yang keluar dari jendela kamar pada pukul 12.39 lewat 38 detik. Namun anehnya, tak terdengar suara tembakan. Di kamar itu, Herlambang hanya seorang diri tanpa ada orang lain.

Rekaman CCTV itu, kata Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso, bisa menjadi modal penting penyelidikan. Sugeng mencurigai Herlambang meninggal karena bunuh diri. Diduga Herlambang menembak dadanya sendiri dengan senjata yang sudah terbungkus kain.

“Polisi harus menjelaskan apakah ada terlihat orang lain sebelum Briptu SH masuk kamar atau setelahnya,” jelas Sugeng, Kamis (28/9).

Polda Kaltara telah memeriksa 14 orang saksi, 13 di antaranya anggota Polri dan satu lainnya pegawai harian lepas.

Asumsi awal kepolisian menduga tewasnya Herlambang akibat kelalaian saat membersihkan senjatanya sehingga tertembak senjatanya sendiri. Namun, pengamat kepolisian, Bambang Rukminto menilai janggal jika Briptu SH tertembak senjatanya sendiri.

“Membersihkan dan mengamankan senjata api itu pelajaran paling awal dan dasar yang diberikan pada personel sebelum diberikan izin menggunakan senjata sapi (senpi). Sebelum membersihkan atau mengamankan, hal yang dilakukan adalah memastikan bahwa di dalam senpi tidak terdapat peluru yang tertinggal,” ucapnya.

Penasihat hukum Keluarga Briptu Setyo Herlambang, Aryas Adi mengatakan pada pukul 11.44 WITA, istri dan Brigadir SH masih saling berkomunikasi. Pesan terakhir dari Brigadir SH kepada istrinya yakni “makan yang banyak biar kuat supaya melahirkan kuat”.

Hingga sepekan usai peristiwa itu, tabir kasus ini masih gelap. Polisi saat ini terus melakukan penyelidikan kasus tersebut. (trb/ahb)

Related posts

Tujuh Motor Ikut Hangus, Kebakaran Gudang di Padang Masih Diselidiki

Lembah Anai Kembali Makan Korban: Travel Avanza Terjun ke Jurang, 7 Orang Luka-luka

Satu Rumah di Seberang Palinggam Terbakar, Damkar Berhasil Cegah Api Meluas