Misteri Dentuman Keras di Agam, BMKG Pastikan Bukan Akibat Gempa Maupun Cuaca Ekstrem

Ilustrasi

AGAM, KP — Fenomena suara dentuman keras yang terdengar di wilayah Kabupaten Agam dan Pasaman pada Jumat dinihari (23/1) memicu kehebohan di jagat maya. Sejumlah warga melaporkan tidak hanya mendengar suara ledakan, tetapi juga melihat kilatan cahaya terang di langit sebelum dentuman terjadi.

Laporan masyarakat di media sosial memperkuat indikasi adanya benda langit yang masuk ke atmosfer bumi. Akun @febrians*** dalam kolom komentar @info_agam, misalnya, memberikan kesaksian bahwa di kawasan Maninjau, langit sempat terang sekilas menyerupai kilat sebelum suara menggelegar terdengar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi resmi terkait suara dentuman keras tersebut. Berdasarkan hasil analisis data operasional, BMKG memastikan fenomena suara tersebut tidak terkait dengan aktivitas seismik maupun fenomena atmosferik.

Kepastian ini disampaikan Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau Padang Pariaman setelah melakukan pemindaian menyeluruh terhadap radar cuaca dan alat pendeteksi petir. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada saat kejadian, tidak terpantau adanya aktivitas awan konvektif jenis Cumulonimbus yang signifikan.

“Tidak terpantau aktivitas awan konvektif jenis Cumulonimbus maupun sambaran petir signifikan yang dapat memicu suara dentuman keras di atmosfer,” demikian keterangan resmi BMKG, Minggu (25/1).

Senada dengan data cuaca, hasil rekaman jaringan seismometer juga tidak menunjukkan adanya aktivitas gelombang gempa bumi (seismik) di wilayah Sumatera Barat pada waktu kejadian. Dengan demikian, sumber suara dentuman dipastikan bukan berasal dari aktivitas tektonik atau pergerakan lempeng di perut bumi.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau Padang Pariaman, Dr. Decky Irmawan, menegaskan pihaknya akan terus memantau situasi dan melakukan pendalaman lebih lanjut untuk mencari sumber fenomena tersebut.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Kami imbau masyarakat tetap tenang. Segala informasi terkait fenomena alam harus merujuk pada kanal resmi BMKG, baik melalui aplikasi InfoBMKG maupun media sosial resmi kami di @bmkgminangkabau,” ujar Decky Irmawan.

Sementara, praktisi GIS Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, memberikan analisis awal melalui akun Instagram pribadinya, @timtimdp. Ia menduga kuat bahwa rangkaian kejadian tersebut dipicu oleh jatuhnya meteor (bolide) yang meledak di atmosfer.

“Saya menduga kejadian ini disebabkan adanya meteor jatuh. Namun, ini perlu dipastikan lewat data lapangan dan kajian lebih lanjut,” ungkap Timtim, Minggu (25/1).

Dugaan ini didasarkan pada pola laporan warga yang konsisten antara penampakan cahaya (fireball) dan suara dentuman (sonic boom). Dalam fenomena meteor jatuh, gesekan benda luar angkasa dengan atmosfer bumi seringkali menciptakan tekanan udara yang sangat besar hingga menimbulkan gelombang kejut yang terdengar seperti ledakan di permukaan bumi. (mas)

Related posts

Lembah Anai Kembali Makan Korban: Travel Avanza Terjun ke Jurang, 7 Orang Luka-luka

Satu Rumah di Seberang Palinggam Terbakar, Damkar Berhasil Cegah Api Meluas

Banjir dan Longsor Terjang Pasaman: Satu Orang Tewas, Ratusan KK Terisolasi