Pasca-Pandemi, Usaha Pembibitan Ikan di Padang Belimbing Kembali Bergairah

SOLOK, KP – Pandemi Covid-19 yang terjadi hampir tiga tahun berdampak besar bagi penjualan ikan di daerah Padang Belimbing, Nagari Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Daerah Padang Belimbing memang dikenal sebagai sentra bibit ikan tawar di Sumbar. Mendengar nama Padang Belimbing saja, orang akan langsung terbayang bibit ikan air tawar.

“Sejak dari dulu Padang Belimbing dikenal sebagai salah satu kawasan pembibitan ikan utama di Sumbar. Hampir separoh dari jumlah warga di daerah ini merupakan peternak bibit ikan,” sebut Ay Mangguluang (45 tahun), tokoh masyarakat setempat, Rabu (26/4).

Namun, sejak pandemi, daerah ini sepi didatangi pembeli. Setelah pandemi melandai, baru Jorong Padang Belimbing kembali ramai dikunjugi pembeli bibit ikan air tawar. Mereka datang bukan hanya dari Sumatera Barat saja, tetapi ada juga yang datang dari Riau, Jambi dan Sumsel.

Untuk mencapai jorong ini, bisa masuk dari Sumani belok kanan kalau datang dari arah Singkarak dan juga bisa dari Nagari Tanjung Bingkuang, Kecamatan Kubung. Tanda sudah masuk di jorong ini adalah tulisan besar dengan kata ‘Selamat Datang di Padang Belimbing‘. Begitu memasuki Padang Belimbing, akan terlihat puluhan kolam pembibitan ikan berjejer di kanan kiri jalan. Bahkan sawah pun ada yang disulap jadi kolam bibit ikan.

Seorang pembibit ikan di Padang Belimbing, Idris (58 tahun) menuturkan, umumnya masyarakat Jorong Padang Belimbing mempunyai kolam pembibitan ikan, baik di depan rumah, maupun di lahan persawahan atau di anak sungai. Jorong ini juga dibina oleh Dinas Perikanan Kabupaten Solok sebagai kawasan penghasil bibik ikan airtawar terbesar.

Menurutnya, jenis ikan air tawar yang tersedia di pembibitan adalah ikan Rayo, Nila, Mujahir, ikan Mas, Taweh, dan lainnya. Selain menyediakan bibit ikan, juga disediakan ikan untuk kosumsi, meski jumlahnya tidak sebanyak penyedia bibit ikan.

“Biasanya kalau untuk ke luar daerah, paling sedikit 60 ton bibit atau dua kendaraan fuso,” katanya.

Pemilik kolam pembibitan ikan lainnya, Daus (50 tahun) menyebut, usaha pembibitan ikan ini merupakan usaha turunan keluarganya.

“Hampir semua warga di sini memiliki kolam ikan, baik sebagai usaha sampingan maupun usaha utama. Saya juga meneruskan usaha Bapak saya,” kata Daus.

Ia menjelaskan, biasanya warga melepas ikan di kolam ikan yang dekat dengan areal persawahan. Lalu ikan dibiarkan menetas di sana. Setelah beberapa hari, tepatnya pada hari ke-12, baru akan kelihatan anak ikan tersebut. Setelah berumur sebulan atau memiliki panjang 9 cm, bibit ikan dibawa ke tempat penangkaran yang airnya lebih jernih untuk dihitung dan barulah bibit ikan itu bisa dipanen.

Pada umumnya, ujar Daus, para pembeli adalah juragan atau pemborong yang melakukan pengadaan bibit ikan untuk daerah lain. Sekali pesan bisa sebanyak 20.000 hingga 100.000 ribu bibit ikan. Ada juga yang membeli dalam jumlah kecil antara 1.000 hingga 10.000 ekor.

Adapun harga satu ekor ikan intuk bibit Nila Rp300 hingga Rp1.000, tergantung ukuran. Begitu juga dengan ikan jenis rayo, harganya Rp500 hingga Rp1.000 per ekor. Untuk bibit ikan lele mulai dari Rp300 hingga Rp500 per ekor.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Solok Kanedi Hamzah menyebut, kawasan Padang Belimbing memang dikenal sejak lama sebagai sentral penyedia bibit ikan utama di Sumbar. “Bibit ikan itu dikelola masyarakat sekitar dan kita hanya sebagai pembina saja,” sebutnya. (wan)

Related posts

Kebersamaan Buka Puasa Bersama GAIA Dental Clinic Bukittinggi, Wujud Apresiasi untuk Seluruh Tim

BKKBN Sumbar Perkuat Komitmen Lintas Sektor untuk Tingkatkan Kemandirian Kampung Keluarga Berkualitas

Harga Emas di Padang Tembus Rp5 Juta per Emas, Tertinggi Sepanjang Tahun