Home » Menjerit Kelaparan

Menjerit Kelaparan

Kolom Edi Jarot

Redaksi
A+A-
Reset

AKHIR-akhir ini harga beras melambung tinggi dan susah nampaknya dikendalikan.

Bahkan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyoroti dinamika harga beras yang terus naik.

Saking susahnya mendapatkan beras, telah ada masyarakat yang beralih makan singkong alias ubi.

Kalau hal ini tidak cepat diatasi pemerintah, semakin banyak masyarakat yang mencari alternatif lain yang bisa mengeyangkan perut seperti sagu, umbi umbian dan lain sebagainya.

Mahalnya harga beras di pasaran menurut pemerintah lantaran produksi dalam negeri, terutama Januari- Februari sedikit.

Seharusnya pemerintah mencari solusi yang baik dan cepat mengenai kondisi sedikitnya produksi beras dalam negeri.

Misalnya segera mengimpor beras dari negara lain lalu diberikan kepada masyarakat dengan harga yang murah dan terjangkau. Hitung-hitung, ini adalah kepedulian pemerintah terhadap rakyat.

Jangan sampai masyarakat menjerit kelaparan.

Yang pasti beras harus ada dan gampang didapatkan dalam kehidupan masyarakat. Daging sapi, kerbau, kambing, dan daging kuda boleh tidak ada, tapi beras jangan sampai hilang di pasaran. Beras di negeri kita diolah jadi nasi. Tanpa nasi seolah olah tiada kehidupan. Artinya, sekalipun kita sudah makan lontong, pecal dan indomie, tapi bila belum makan sepiring nasi, seolah-olah belum makan.

Makanya, pemerintah harus segera menyediakan beras dengan harga murah untuk rakyat. Semoga. *

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?