Catatan Adi Bermasa (Wartawan Senior)
Di negeri ini sangat banyak jabatan resmi sebagai wakil dipercayakan pada seseorang. Mulai dari tingkat terbawah. Misalnya dalam lembaga pemerintahan, organisasi kemaayarakatan, sosial, keagamaan, dan lainnya. Dalam setiap struktur lemabaga atau organisasi tersebut, pasti ada yang berperan sebagai wakil. Seperti wakil ketua pemuda, wakil ketua pengurus masjid/musala, wakil ketua karang taruna, dan banyak lagi jenisnya.
Tentu saja, ada pula jabatan wakil yang terbilang bergengsi. Mulai dari wakil presiden, wakil ketua DPR, wakil panglima TNI, wakil menteri, dan terlalu banyak jika disebutkan satu-persatu.
Namun anehnya, baru-baru ini ada pula yang mengaku ‘wakil nabi’. Ia melakukan penembakan di kantor MUI pusat. Namun, pelaku meninggal usai melakukan perbuatan tersebut.
Di negara Indonesia dengan jumlah penduduk yang luar biasa banyak jumlahnya, sejak negeri ini merdeka, jabatan wakil sangat terhormat. Wakil Presiden pertama berasal dari tanah bertuah ini, yaitu Mohammad Hatta. Tentu warga Minang merasa bangga bahwa wakil presiden pertama adalah urang awak. Alhamdulillah. Tapi Pak Hatta akhirnya mundur jadi Wakil Presiden tak lama setelah republik ini merdeka.
Kini, di Sumbar terjadi pula pejabat penting berstatus wakil yang mundur. Yaitu Wakil Bupati Agam Irwan Fikri yang kebetulan sekampung dengan Pak Hatta. Sama-sama putra Agam.
Mundurnya Irwan Fikri dari jabatan Wakil Bupati Agam karena hubungan yang kurang baik dengan Bupati. Begitu diberitakan KORAN PADANG terbitan Selasa (16/5) di halaman 1.
Bagaimanapun juga, mundurnya Irwan Fikri sebagai Wakil Bupati Agam termasuk kejutan bagi daerah ini. Sebagai manusia biasa, siapapun dia, pasti punya kelebihan dan kekurangan. Termasuk Bupati Agam bersama wakilnya. Bagi insan yang benar-benar mengerti dengan keberadaannya, pasti maklum dengan ketidaksempurnaan diri masing-masing.
Mungkin di antaara kita ada yang sepakat, bahwa sangat disesalkan Pak Irwan Fikri mundur dari jabatannya hanya karena alasan hubungan kurang baik dengan bupati. Sungguh, ini merupakan peristiwa langka menimpa Agam. *
